Kisah Anak Manusia Berjarak-jarak

Sebagai anak yang besar di daerah sekitaran Cempaka Putih, tentunya sudah tidak asing dengan sebuah tempat pertunjukan “Teater Miss Tjitjih”.

Dulu, saat melewati teater ini, saya pernah membatin ingin menyaksikan pertunjukan seni suatu saat nanti.

Tahun pun berganti.

Melihat bloggercrony yang membuka kuota untuk menyaksikan pertunjukan teater dan bertempat di Miss Tjitjih, saya pun mendaftarkan diri.

Yeay! Sehari sebelum pertunjukan dimulai, saya menerima kabar kalau saya mendapatkan undangan tersebut!

Dan, hari itu pun tiba… 12 Februari 2017, bertempat di Teater Miss Tjitjih, pertunjukan “PRAAANG: Kisah anak manusia berjarak-jarak” dipentaskan.

dsc_2511

Tak berapa lama saya tiba di Teater Miss Tjitjih dengan diiringi gerimis, lampu teater pun diredupkan pertanda pertunjukan dimulai.

PRAAANG: Kisah anak manusia berjarak-jarak adalah sebuah pertunjukan teater yang dimainkan oleh para pekerja rumah tangga. Lakon ini menyuguhkan realitas keseharian perlakuan majikan terhadap pekerja rumahnya dengan segala suka dan duka.

Dalam rangka memperingati Hari Pekerja Rumah Tangga Nasional yang jatuh pada 15 Februari, hari di mana seorang PRT yang bernama Sunarsih meninggal karena dianiaya oleh majikannya 16 tahun yang lalu di Jawa Timur, pentas perdana Teater PRT dimainkan.

Pentas ini dimainkan oleh 23 pemain yang berprofesi sebagai Pekerja Rumah Tangga dengan latihan selama 5 bulan. Salut juga kepada para majikan yang mendukung mereka untuk berlatih dan mementaskan lakon ini.

SINOPSIS CERITA

Adalah Surti, gadis berusia 20 tahun asal Indramayu yang akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga setelah melamar sekian lama.

Surti diterima bekerja di keluarga Broto Kesowo yang kaya dan terhormat, dengan pekerjaan utama mengurus tetek bengek rumah keluarga tersebut dan menjaga kebersihan dan keutuhan guci keramat wasiat turun temurun keluarga Broto Kesowo.

Surti yang santun membuat Rena, putri Broto Kesowo berempati, Rena memperolah banyak pelajaran kehidupan darinya.

Pernah suatu malam, saat keluarga itu berkumpul, “PRAAANG”… Surti menjatuhkan piring kesayangan sang majikan. Kontan saja Surti mendapatkan cercaan dan makian dari keluarga Broto Kesowo namun Rena menengahi peristiwa tersebut dengan berempati kepada Surti.

Sebaik-baiknya Surti bekerja, tentu saja sebagai manusia biasa yang bisa sakit dan secara tidak sengaja menjatuhkan guci yang dikeramatkan keluarga itu.

“PRAAANG…” bunyi yang teramat keras membuat marah keluarga itu dan kebencian serta hinaan tentu diarahkan kepada Surti.

Gawat! Guci pecah sama saja pertanda keruntuhan keluarga dan kehormatan Broto Kesowo. Di luar dugaan Surti, Rena memilih bersama keluarganya mengutuk dan mengecam Surti. Bagi Broto Kesowo, kata maaf saja tidak cukup, penyiksaaan juga belum memuaskan… Surti harus menerima hukuman gantung!

dsc_2521

dsc_2523

dsc_2524

dsc_2525

Yang membuat saya bersedih adalah lakon ini diadaptasi dari kejadian nyata seorang pekerja  rumah tangga yang disiksa selama 9 tahun dan hukuman yang diterima selain dipukuli juga digantung sehari semalam setiap melakukan kesalahan.

Inilah potret yang terjadi, Pekerja Rumah Tangga Indonesia belum mendapatkan jaminan atas perlindungan baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga banyak timbul kekerasan terhadap PRT. Persoalan Undang Undang mungkin menjadi tanggung jawab wakil rakyat di DPR namun saya, Anda, kita sebagai majikan bijaknya memanusiakan Pekerja Rumah Tangga yang bekerja di dalam rumah.

Doa saya, semoga tidak ada lagi Sunarsih atau Surti lain yang mengalami kekerasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s