LIMA Nilai dalam Keseharian

Ingatan saya melayang ke masa kecil saat bermain permainan “Pancasila Lima Dasar”. Permainan itu butuh maksimal lima orang dengan cara ber-hom-pim-pa sambil menyebutkan hal apa yang mau disebutkan. Kemudian menghitung jari dengan menyebutkan abjad lalu setelah itu masing-masing menyebutkan hal yang disepakati dengan berawalan abjad yang dihitung tadi.

Apakah kalian juga pernah bermain Pancasila Lima Dasar?

Tepat di hari lahir Pancasila, saya bersama komunitas Sahabat Blogger dan ShopBack menonton film LIMA. Sebelum menonton saya mulai mencari tahu apakah film LIMA itu. Setelah saya membaca berita mengenai film LIMA, saya menjadi penasaran bagaimana kelima sutradara saling bekerja sama agar film tersebut dapat berkesinambungan.

maxresdefault

Ide film ini berawal dari salah satu sutradara LIMA, Lola Amaria yang kemudian mengajak keempat temannya untuk menggarap film LIMA. Lola melihat adanya krisis penghayatan Pancasila dalam masyarakat, sekaligus mengekspresikan kegelisahan dan harapan melihat Indonesia yang lebih damai pada masa yang akan datang.

Film diawali dengan cerita meninggalnya Maryam (Tri Yudiman), ibu dari tiga bersaudara, Fara (diperankan Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra).

Scene dilematis dimulai ketika terjadi perdebatan mengenai jenazah ibu mereka dari sudut pandang agama masing-masing. Bahkan ada juga adegan jenazah Maryam ditolak untuk disholatkan di mesjid karena dia yang meninggal dalam posisi sebagai muslimah dikisahkan sebelumnya pernah memeluk agama Kristen. Adegan sila pertama yang diciptakan sutradara Shalahuddin Siregar ini dapat diselesaikan dengan damai.

Setelah Aryo ditinggal ibunya, dia merasa kesepian sehingga kerapkali mengenang ibunya dengan bermain piano. Saat Aryo mengunjungi toko musik, pemilik toko sempat berujar, “Kita yang memilih diam juga sama pengecutnya”, membuat Aryo berpikir mengenai bully yang terjadi di sekolahnya. Puncaknya saat Aryo mau menolong seorang pencopet ketika dia dalam perjalanan pulang ke rumah.

Rasanya, adegan sila kedua yang disutradarai oleh Tika Pramesti ini merupakan adegan yang membuat pilu karena seolah-olah nyawa manusia tidak ada harganya. Masyarakat dengan mudahnya menghukum orang yang bersalah dengan main hakim sendiri.

Adegan ini disutradarai oleh Lola Amaria diawali dengan cerita Fara yang merupakan pelatih renang mendapatkan kabar gembira kalau Indonesia dapat mengikuti ajang kompetisi internasional namun hanya satu orang yang dapat dikirim. Pemilik klub renang memaksa Fara untuk mengirim Andre yang seringkali terlambat datang untuk latihan. Sebenarnya Fara mengajukan Kevin yang lebih baik performance-nya daripada Andre namun karena Kevin seorang keturunan Tionghoa maka ditolak. Hal ini menyebabkan Fara mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pelatih renang.

Cerita bergulir sampai ke adegan keempat di mana Fara, Adi dan Aryo kedatangan notaris yang jasanya digunakan oleh Maryam. Ibu mereka telah meninggalkan sejumlah warisan untuk segera diselesaikan. Penolakan keras terjadi dari Aryo yang merasa bahwa saat itu bukan waktu yang tepat untuk berbagi warisan. Tentu saja konflik sila keempat yang disutradarai oleh Harvan Agustriansyah ini akhirnya mencapai mufakat.

Adegan terakhir diceritakan tentang si bibi yang memutuskan untuk kembali ke desa karena merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan di keluarga Maryam. Lagipula si bibi ingin membesarkan anak-anaknya di sisa hidupnya. Akibat absennya si bibi, kedua anaknya mencoba untuk mengambil bibit cocoa di perkebunan orang lain. Kejadian ini membuat kedua anak si bibi berhadapan dengan hukum.

Lalu, bagaimana kelanjutannya? Yuk tonton film LIMA yang menciptakan narasi positif demi bangsa Indonesia yang lebih maju ketimbang menghidupkan narasi negatif tentang intoleransi atau terorisme.

 

Film LIMA begitu berkesan bagi saya karena mampu mengingatkan lagi arti Pancasila yang bukan hanya sekadar ideologi negara tetapi sejatinya merupakan pandangan hidup kita sehari-hari.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama yang mengajarkan kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sila kedua yang mengakui manusia diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama haknya dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, dan keparcayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Karena itu dikembangkanlah sikap saling ,mencintai sesama manusia, dan sikap tenggang rasa.
  3. Persatuan Indonesia. Sila ketiga menempatkan manusia Indonesia pada persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Sila keempat menyatakan bahwa manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan masyarakat.
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila kelima mengingatkan kita untuk mengembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain.

Nilai-nilai luhur Pancasila mampu menyatukan berbagai perbedaan dan justru dengan segala keberagaman yang ada di bangsa Indonesia memperkuat jati diri kita.

Mungkin kalau semua dari kita benar-benar menghayati nilai-nilai Pancasila tidak akan terjadi keriuhan di media sosial yang tiada henti 🙂

Terima kasih Lola Amaria dkk yang sudah membuat film yang wajib ditonton oleh semua anak bangsa yang peduli dengan Indonesia.

Doa saya, semoga kedepannya lahir film-film kebangsaan yang bermutu seperti LIMA!

*artikel ini menjadi pemenang dalam lomba blog yang diselenggarakan shopback dan komunitas sahabat blogger

Advertisements

3 thoughts on “LIMA Nilai dalam Keseharian

  1. wah keren juga nich film LIMA, Karena memerikan ilme pengetahuan tentang pancasila apalagi untuk generasi muda bangsa, film ini sangat bermanfaat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s