Sehat Bugar bareng Tiga Studio

Minggu lalu saat mengantar balita saya untuk imunisasi di dokter spesialis anak, saya naik ke atas timbangan yang tersedia di rumah sakit. Betapa kagetnya saya ketika mendapati timbangan naik dari yang normalnya 51kg menjadi 54kg! Pantas saja, celana terasa sesak dan saya akhir-akhir ini mudah merasa lelah.

Tentu saja itu menjadi alarm bagi saya dan artinya saya harus kembali menjalani olahraga yang cukup lama saya abaikan. Biasanya saya akan menjalani jogging sebagai salah satu olahraga yang mudah dilakukan tapi ternyata saya mudah bosan dan seperti kehilangan motivasi akhir-akhir ini.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat saya butuh mencoba hal baru, Clozette Indonesia mengajak saya untuk mencoba sebuah pusat kebugaran di kawasan Jakarta Selatan yang bernama Tiga Studio.

Saya berkesempatan untuk mengikuti kelas-kelas latihan yang disediakan Tiga Studio sebanyak lima kali.

The Ambiance

Ketika melangkahkan kaki ke Tiga Studio, kesan pertama adalah nyaman. Tepat memasuki Tiga Studio, kita dapat langsung menemukan meja resepsionis. Di sebelah kiri sebelum memasuki ruang latihan, ada lounge untuk menunggu atau pun bisa sambil ngobrol dengan member lainnya.

honeyjosep

Reception and lounge area of Tiga Studio

Untuk changing room, tersedia 3 ruangan dan yang saya suka adalah kebersihannya. Bersebelahan dengan changing room, ada mushola yang dapat digunakan untuk sholat. Toilet dan shower room pun tersedia dengan beberapa amenities.

honeyjosep

Changing Room

honeyjosep

Prayer Room

IMG20181023175007

Classes

Tiga Studio menyediakan beragam kelas sepanjang minggu, Senin – Jumat mulai dari jam 09.30 – 21.30 dan Sabtu-Minggu mulai jam 07:00 – 10:30.

Kelas yang ditawarkan ada Basic Yoga, Cardio Boxing, High Intensity Interval Technique (HIIT), Piloxing, Pound Fit, Strong Zumba, dan Zumba.

honeyjosep

Kelas yang tersedia di Tiga Studio

Untuk kunjungan pertama kali, saya mengikuti kelas pound fit bersama trainer Mega Wijaya. Ini kelas pound fit pertama saya! Jujur saja, saya sudah lama banget penasaran ingin mencoba olahraga ini karena kelihatan dinamis dan menggunakan alat yang ringan dan ringkas saat dipegang berupa pound stick yang disediakan oleh Tiga Studio.

honeyjosep

Pound Fit bersama Mega Wijaya

Ternyata walau kelihatannya banyak latihan ditujukan untuk tubuh bagian atas, bagian tubuh bawah juga bisa dilatih dengan menggunakan pound fit! Saya suka sekali dengan bagian latihan dengan menggunakan matras karena area perut dan paha merasakan manfaatnya! Enggak ada yang lebih keren selain punya perut rata dan bokong yang kencang, seksi!

Kunjungan kedua, saya mencoba cardio boxing. Cardio boxing merupakan olahraga perpaduan antara latihan untuk jantung (cardio) dengan latihan meninju (boxing). Saya agak kewalahan mengikuti kelas ini karena gerakannya sangat cepat karena di kelas ini memang yang menjadi fokus utama adalah latihan cardio-nya.

honeyjosep

Cardio Boxing with Bayu

Kelas berikutnya yang saya ikuti adalah Strong by Zumba. Strong by zumba ini lebih mirip latihan boot camp dengan diiringi musik yang asyik.

Dua kelas terakhir yang saya ikuti adalah Yoga dan High Intensity Interval Training (HIIT)

The Price

Ini dia daftar harganya:

Per Class Membership per month 5x Classes 10x Classes
Rp100.000 Rp790.000 (unlimited classes) Rp350.000 Rp650.000

Menurut saya, harganya kompetitif dan terjangkau mengingat ruangan nyaman dan fasilitas yang tersedia.

Kesimpulan: Latihan di Tiga Studio sangat nyaman dan menyenangkan. Pilihan kelas banyak yang diadakan setiap hari, Senin-Minggu dengan harga terjangkau. Sehingga ini menjadi pilihan terutama buat kalian yang sibuk karena bisa olahraga di akhir pekan.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal kelas latihan bisa dilihat di instagram Tiga Studio atau WhatsApp +62 821 1933 3303.

Let’s exercise and be healthy with Tiga Studio!

Advertisements

Minty Lime with Ice

IMG_20181013_084544_006

Lusa kemarin, saat saya seharian saja di rumah, udara panas sekali!

Menurut Kepala Humas BMKG Hary Djatmiko, hal ini disebabkan karena matahari saat ini berada di belahan bumi selatan, sekitar wilayah Indonesia. Jadi kita mendapatkan penyinaran yang langsung dan suhu pun berkisar 33-35 derajat Celcius.

Ditambah lagi kelembapan udara menyebabkan proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujannya lebih kecil. Duh jadi harus sabar nih menunggu hujan yang tidak kunjung turun padahal sudah bulan Oktober! Kalau cuaca panas begitu, saya jadi craving yang segar dan dingin.

Dan, inilah resep Minty Lime with Ice drink…. bahkan saya punya 3 versi 🙂

Yang pertama, versi sehat:

Bahan-bahan:
12 helai daun mint segar
2 buah jeruk nipis, diiris atau diperas
3 sdm maple syrup
segelas air dingin
es batu secukupnya
pitcher

Cara membuat:

  1. Lukai atau remas daun mint, taruh di pitcher
  2. Masukkan jeruk nipis yang sudah dipotong dan diperas/diiris ke dalam pitcher
  3. Tambahkan maple syrup, air dan es batu. Sajikan

 

Yang kedua, versi tidak sehat:

12 helai daun mint segar
2 buah jeruk nipis, diiris atau diperas
1 kaleng Sprite
segelas air dingin
es batu secukupnya
pitcher

Cara membuat:

  1. Lukai atau remas daun mint, taruh di pitcher
  2. Masukkan jeruk nipis yang sudah dipotong dan diperas/diiris ke dalam pitcher
  3. Tambahkan Sprite, air dingin dan es batu
  4. Sajikan

 

Yang ketiga, versi tidak halal:

12 helai daun mint segar
2 buah jeruk nipis, diiris atau diperas
air gula
45ml rum (jenis Baccardi)
segelas air dingin
es batu secukupnya
pitcher

Cara membuat:

  1. Lukai atau remas daun mint, taruh di pitcher
  2. Masukkan jeruk nipis yang sudah dipotong dan diperas/diiris ke dalam pitcher
  3. Tambahkan Sprite, rum, air gula dan es batu
  4. Sajikan

Voila, Minty Lime with Ice drink siap diteguk!

Selamat mencoba 🙂

Welcome to ILHAVO!

16-18 Mei 2018, selama tiga hari saya akan berada di Ilhavo, Portugal untuk Global Finance Summit 2018.

Sekitar jam 7 pagi, saya dan kolega dari Asia mencoba menuju mini market terdekat untuk membeli beberapa keperluan untuk memasak sarapan.

Porto Nautico Apartment

Morning in Porto, Portugal

Road in Porto, Portugal

On the way to mini market with view!

Namun sayang sekali, mini market baru buka jam 9 pagi sedangkan kami sudah harus bersiap-siap untuk meninggalkan Porto menuju Ilhavo. Karena  tidak dapat memasak, maka kami pun mencoba membeli menu sarapan di salah satu kafe yang kami temui dalam perjalanan kembali ke Porto Nautico Apartment untuk berkemas.

Belum banyak kafe yang buka sangat pagi dan kebanyakan yang dijual kedai kopi yang kami temui adalah roti. Saya, saat sedang memilih-milih roti apa yang akan saya beli, malah menemukan egg tart. Saya punya pengalaman menyenangkan dengan egg tart saat di Singapura bernama BAKE. Makanya saat melihat sejenis egg tart, saya pun membelinya dan ternyata rasanya enak, tidak kalah dari egg tart yang pernah saya coba.

Read more: #SenangLiburan

Belakangan, saya baru tahu kalau kudapan itu merupakan custard tart yang biasa disebut Pastel De Nata oleh masyarakat lokal.

Custard tart

Pastel de Nata

Pastel de Nata ini crunchy dan creamy! Membuat saya enggak kepengen udahan mengunyahnya. Pastel de Nata cocok banget kalau dimakan bareng kopi hitam tanpa gula karena custard tart ini sudah manis sekali seperti saya *eaaaaa. Setelah perut sedikit hangat karena sudah sarapan pastry dan mie laksa instant dalam cup yang dibawakan oleh kolega dari Singapura, kami pun berangkat menuju Montebelo Allegrevista Hotel di Ilhavo.

Perjalanan dari Porto menuju Ilhavo lebih kurang 1 jam tidak terasa karena saya menikmati pemandangan sepanjang jalan berupa sarang burung camar (seagull). Walaupun sedikit tersasar karena komplek Hotel Montebelo Vistalegre menjadi satu dengan The Vista Alegre Museum, akhirnya saya tiba di hotel yang akan menjadi tempat kegiatan selama 3 hari.

Bem vida ao Ilhavo!” , welcome to Ilhavo!

Bem vida ao Ilhavo

Sunny day in Ilhavo

Ilhavo merupakan salah satu kotamadya Portugal. Tepat di depan Hotel Montebelo Vistalegre, terbentang Boco River. Sebenarnya, di Ilhavo ada tourist spot yang menarik seperti beach houses yang berwarna warni dan mercusuar tertinggi di Portugal.

Sayang sekali, karena jadwal summit yang padat, saya tidak berkesempatan untuk berkeliling Ilhavo maupun masuk ke dalam Museum Vista Alegre. Tapi kalau dilihat dari situsnya di vistaalegre.com, bangunan museum ini dulunya adalah pabrik lama yang sudah tidak digunakan untuk memproduksi porselen dengan merek Vista Alegre.

Bright sky

Tampak depan Museum Vista Alegre

Kerennya lagi, pabrik porselen ini pada tahun 1944 sudah memiliki tempat penitipan anak untuk pekerjanya. Indonesia perlu banyak belajar nih mengenai kebijakan pemerintah yang berpihak kepada perempuan bekerja. Jangankan di pabrik, di kantor bergedung tinggi saja belum tentu tersedia ruangan untuk memerah ASI atau menyusui yang nyaman dan didedikasikan untuk perempuan bekerja. Kalian harus menyempatkan diri mengunjungi museum yang satu ini!

Ulasan tentang Hotel Montebelo Vistalegre akan menyusul di artikel selanjutnya! Stay tune!

Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona

Dulu, saya pernah naksir mati-matian sama seseorang tapi takut menyatakan cinta karena masih punya pemikiran orang zaman old, bahwa perempuan itu akan dicap agresif kalau menyatakan cinta kepada laki-laki. Padahal saat itu, dia mendapatkan beasiswa S2 di negeri kangguru dan kalau saya enggak menyatakan cinta kepadanya pasti akan ada orang lain yang akhirnya jadi pacarnya. Dan beneran aja, setelah menyelesaikan S2-nya dia menikah dengan mantan pacarnya yang sering putus nyambung.

Nyesel gak saya? Kalau dibilang nyesel sih udah pasti, karena dia belakangan baru tahu kalau saya beneran cinta mati sama dia tapi enggak berani menyatakan 🙂

Atau, kalian pernah punya kisah cinta saat SMA? Kamu naksir seseorang tapi ternyata orang yang kamu taksir itu suka sama orang lain… atau kamu takut menerima kenyataan kalau hubungan pertemanan kalian akan jadi sulit kalau dilanjutkan ke arah pacaran?

Beberapa bulan lalu, saya membaca ulang novel yang ditulis 4 orang sekaligus, Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita. Kenapa membaca ulang? Jujur saja, saat membaca pertama kali, saya tergesa-gesa membacanya sehingga mudah lupa. Selain itu, karena novel tersebut akan diangkat ke layar lebar maka saya merasa perlu mengingat kembali bagaimana jalan ceritanya agar dapat menikmati film secara utuh.

IMG20180613170736

13 September 2018, saya diundang untuk menghadiri Gala Premiere Belok Kanan Barcelona oleh Adithya Mulya dan Ninit Yunita. Mendapatkan jadwal menonton yang baru mulai jam 20:30 dan mungkin akan selesai jam 22:30 tidak menyurutkan niat saya untuk melihat film Belok Kanan Barcelona.

IMG-20180913-WA0016(1)

Film Belok Kanan Barcelona yang sudah tayang di bioskop sejak Kamis, 20 September 2018 dibuka dengan adegan Francis (Morgan Oey) di atas panggung sedang konser piano. Kemudian, sama seperti novelnya, Francis mengabarkan kepada sahabat-sahabatnya, Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Ucup (Deva Mahenra) tentang rencana pernikahannya.

Keempatnya adalah sahabat dekat sejak SMA. Setelah lulus, mereka menjalani kehidupan di negeri orang. Francis menjadi pianis kelas dunia yang memiliki kekasih bule yang cinta mati kepada Francis tapi tukang ngatur dan cemburuan kalau Francis menyinggung-nyinggung Retno. Retno, belajar menjadi koki di Copenhagen, Denmark. Mungkin Retno memilih profesi ini karena sebenarnya dia masih belum move on dari Francis. Waktu SMA, Retno sering membuatkan Francis rending atau membuat kue bersama Farah. Ucup, merantau sampai ke Afrika Selatan demi untuk membiayai kuliah adiknya setelah ayahnya meninggal dunia. Farah, diceritakan dalam film sebagai seorang arsitek yang meniti karir di Vietnam.

Tentu saja kabar rencana pernikahan Francis membuat kaget mereka semua, pasalnya, masih ada urusan masa lalu yang belum selesai. Francis pernah jatuh cinta kepada Retno tapi Retno menyimpan rapat-rapat perasaannya karena dia pernah dinasehati oleh kedua orangtuanya mengenai perbedaan agama yang akan membuat hubungannya dengan Francis cukup berat untuk dijalani.

Farah yang juga jatuh cinta kepada Francis memilih untuk memendam rasa karena merasa persahabatannya dengan Retno terlalu berharga untuk dirusak oleh percintaan ala remaja. Sedangkan Ucup, suka dengan Farah dan berniat menyatakan perasaannya saat masih bersekolah tapi selalu saja ada halangan.

Setelah mendengar kabar Francis akan menikah, Retno dan Farah bertekad untuk menyatakan perasaannya masing-masing sebelum semuanya terlambat!

Akankah mereka berhasil? Untuk tahu, kalian perlu nonton film Belok Kanan Barcelona. Dapatkan juga kesempatan untuk ke Barcelona gratis bareng pemain film Belok Kanan Barcelona!

IMG-20180914-WA0011

Belok Kanan Barcelona yang bergenre drama komedi sukses membuat saya tertawa dan mesem-mesem sepanjang film diputar. Lokasi syuting sangat memanjakan mata! Tentu saja dong film Belok Kanan Barcelona harus syuting di luar negeri karena kan film ini berangkat dari novel yang aslinya bercerita banyak tentang lokasi para tokohnya tinggal. Di dalam novel, kalian akan menemukan footnote tentang lokasi yang ada, dan ini membuat pengetahuan saya semakin bertambah tentang negara-negara yang Farah-Francis-Retno-Ucup kunjungi. Kini, novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona dicetak ulang dengan menggunakan sampul terbaru, go grab them in bookstore!

Life is The Heart of A Rainbow

Desember tahun lalu, saya melewati sebuah penunjuk jalan di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di penunjuk jalan tersebut tertera AKR Tower – Museum MACAN. Di dalam hati, saya berkata, “oh di sini toh letaknya museum MACAN.”

Museum MACAN tetiba menjadi tren kekinian apalagi suguhan feed instagram yang memanjakan mata. Museum MACAN merupakan kepanjangan dari Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara. Dulu, pergi ke museum dianggap cupu tapi kini, semua orang harus paling tidak sekali menjejakkan kaki ke museum ini. Tiket masuk museum memang tidak murah namun museum MACAN memiliki daya tarik tersendiri dengan kurasi yang keren! Contohnya, karya YAYOI KUSAMA – LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW yang berlangsung 12 Mei – 9 September 2018.

YAYOI KUSAMA

LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW

Saya sudah lama sekali ingin berkunjung ke museum MACAN ditambah lagi ada pameran seni Yayoi Kusama yang dulu pernah dipamerkan di National Gallery, Singapura dan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (QAGOMA). Keren banget kan, Indonesia bisa jadi negara yang dipilih Yayoi Kusama untuk memamerkan hasil karyanya?!

Awalnya saya mau mengajak suami beserta putra sulung saya tapi mereka seperti tidak tertarik. Mau mengajak keponakan yang sedang berkunjung ke Jakarta dari Pontianak juga rupanya bukan opsi terbaik karena kuatir mereka tidak akan menikmatinya. Akhirnya, di suatu kesempatan saya nekat pergi bersama salah seorang teman yang kebetulan punya minat yang sama tentang seni kontemporer.

Tiket masuk tur harian dibanderol sebesar Rp100.000 per satu orang dewasa. Untuk anak seharga Rp80.000 per orang dan lanjut usia hanya perlu membayar Rp90.000 per orang.

Sebelum masuk, pengunjung dapat membaca terlebih dahulu panduan museum agar semuanya nyaman.

IMG_20180827_125549

Pengunjung dapat menemukan Great Gigantic Pumpkin kemudian Dots Obsession saat akan masuk menuju pameran seni hasil karya Kusama.

Great Gigantic Pumpkin

dibuat tahun 2013 dengan bahan fiberglass reinforce plastic, urethane paint, metal 245 x 260cm

Dots Obsession

dibuat tahun 2008 dengan bahan suspended vinyl ballons, large balloon dome with mirror room, and peep-in mirror dome.

Berjejer karya Kusama saat awal-awal membuat karya seni,

Early Works

Periode awal Kusama sebagai seniman pada tahun 1940-an sangat dipengaruhi oleh kondisi Jepang yang saat itu sedang berusaha pulih dari kekalahan dari Perang Dunia II

Infinity Nets

Motif ini terinspirasi oleh pengalaman Kusama saat mengamati gelombang Samudera Pasifik dari jendela pesawat dalam perjalanannya dari Jepang menuju Amerika Serikat pada 1957

Lepas dari area Early Works dan Infinity Nets, saya masuk ke area terbatas, tidak diperbolehkan membawa kamera dan hanya pengunjung yang berusia 18+ tahun yang boleh masuk. Karena penasaran, masuklah saya dan saya berada di dalam ruangan yang bertajuk Body and Performance dengan waktu yang cukup lama.

Di dalam ruangan ini, saya mencoba untuk mengenal siapa Yayoi Kusama sebenarnya karena saya belum melakukan riset apa pun berkaitan dengan kunjungan ke pameran Life is The Heart of A Rainbow ini. Lewat cuplikan film pendek dan foto Kusama bersama hasil karyanya memberikan kesimpulan bagi saya bahwa dia memiliki kekelaman di dalam hidupnya tapi entah apa itu. Saya hanya tahu bahwa Kusama memang bergumul dengan kesehatan mentalnya dan seni merupakan satu-satunya yang dapat membuat dia tetap bertahan hidup di saat keinginan untuk bunuh diri muncul.

Belakangan, saya baru tahu setelah men-googling, Yayoi Kusama lahir di Matsumoto, Nagano, Jepang pada 22 Maret 1929. Dia mulai menulis puisi saat berumur 18 tahun sebagai bentuk pelarian atas perlakuan ibunya yang sering menghukumnya secara fisik.

Seni menjadi pelarian Kusama atas kesehatan mental yang dihadapinya sejak berumur 10 tahun. Di usia anak-anak, Kusama sering mengalami halusinasi berupa kilatan cahaya, aura dan pemandangan bintik-bintik padat. Seringkali juga dia melihat bunga yang berbicara kepadanya atau pola-pola kain yang dilihatnya menjadi hidup, berlipat ganda, lalu mengurung dan menutupi dirinya. Halusinasi ini bahkan sempat membuat Kusama terluka.

Selanjutnya, saya menuju ruangan Experiments in Japan.

Dalam periode ini, Kusama kembali menekuni motif khasnya berupa polkadot, bunga dan labu

Saat kembali ke Jepang pada 1973, Kusama menemukan bahwa tanah airnya telah berubah drastis

#ShamelessSelfie

mandatory pic if you find large mirror 😀

Dari ruangan Experiments in Japan, saya menuju ruang Love Forever

Love Forever

Gambar monokrom yang dibuat Yayoi Kusama dari pena mulai tahun 2004 hingga 2007

Saya melewatkan Infinity Mirrored Room karena harus mengantre selama 45 menit untuk masuk kedalamnya. Saya menyerah karena kaki sudah mulai sakit memakai sepatu berhak dan hari pun sudah mulai sore. Saya beranjak menuju Level 6, tempat di mana The Obliteration Room berada.

Selama lebih dari 40 tahun, Kusama membuat lukisan, patung dan karya fotografi menggunakan polkadot untuk menutupi bermacam-macam permukaan dan mengisi ruangan.

Kusama menyebut proses ini “kemusnahan” yang berarti hancur dan hilangnya suatu benda tanpa bekas sama sekali. Kusama mengundang pengunjung untuk bergabung dan bersenang-senang, menutupi seluruh mebel dan dinding di The Obliteration Room dengan polkadot warna warni! Dan lihatlah betapa senangnya saya,

IMG20180712161139.jpg

IMG20180712161416_1

Sebaiknya kalian menempelkan seluruh sticker polkadot warna warni tersebut sampai habis karena kalau ada sisa akan diminta kembali oleh petugas museum MACAN. Hal ini dilakukan agar kebersihan museum MACAN tetap terjaga.

Setelah puas mengelilingi pameran YAYOI KUSAMA – LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW, saya pun menikmati kopi suguhan One Fifteenth sambil memandangi jalanan Jakarta dari ketinggian.

IMG20180712163244(1)

What a day well spent!

Further information:

Museum MACAN
www.museummacan.org

Address: AKR Tower Level MM, Jl. Perjuangan No.5, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, 11530

Phone: +62 21 2212 1888

Opening hours: Tue-Sun 10AM-7PM

 

Apakah kalian sudah mengunjungi museum MACAN? Yuk berbagi pengalamanmu di kolom komentar!

related articles:

Strolling Around Porto #1

Setelah berkenalan dengan kolega dari Singapura dan Vietnam, saya bergegas bebersih karena kami akan berjalan sore sambil mencari makan malam.

Dan inilah pemandangan saat saya jalan-jalan sore di sekitar Porto.

Blue Sky in Porto

Ini penampakan pedestrian walking area di Porto jam 18:00

Strolling Around Porto #1

Sepertinya ini bagian dari jalanan di area City Hall

Senang sekali saya melihat pedestrian walking area di Porto, bersih! Walau terbuat dari conblock, enggak ada tuh warganya yang iseng nyongkel 😀

Dalam perjalanan dari apartemen Porto Nautico menuju Rua de Santa Catarina, saya menyempatkan mampir di toko suvenir untuk membeli oleh-oleh buat rekan kerja di kantor. Lagi-lagi, saya terlalu menikmati melihat-lihat sampai tidak sempat berfoto di toko tersebut.

Ternyata di Porto banyak bertebaran coffee shop! Tadinya saya pikir di Porto jarang kedai kopi karena minuman andalannya adalah sweet red wine yang biasanya dikenal dengan sebutan Vinho do Porto. Tapi sayangnya saya tidak punya kesempatan untuk mencicipi kopi Porto karena waktu yang terbatas.

Sanzala merupakan coffee shop tertua di Porto. Berdiri sejak 1963, Sanzala tetap eksis di tengah persaingan coffee shop yang lebih modern. Menarik ya?!

Sanzala in Porto

Coffee anyone?

Karena perut sudah berontak kelaparan maka kami mampir ke sebuah restoran yang terletak di Rua de Santa Catarina, di mana di sepanjang jalan terdapat toko branded fashion and apparel.

Untuk ukuran orang Portugal, makan malam kami termasuk yang jamnya terlalu cepat karena biasanya mereka makan malam pada jam 20:00.

Kami pun menjatuhkan pilihan di restoran Porto Duoro tanpa melihat rekomendasi dari google. Dan ternyata pilihan kami tidak salah karena di dalam ada pemandangan keluar yang memanjakan mata!

Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Saking lapernya, saya sampai enggak sempat foto penampakan restaraunte Porto Duoro

Di Porto, semua makanan akan disajikan dengan asinan buah zaitun. Rasanya unik dan baru kali ini saya mencoba buah zaitun asli soalnya selama ini kan tahunya hanya minyaknya saja. Buahnya sendiri kebanyakan diasinkan mungkin karena kecut maka perlu rasa lain agar kecutnya tidak mendominasi.

Restaurante Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Keju Porto

Selain wine, Porto terkenal dengan kejunya dan benar, setelah saya coba keju Porto memang nikmat, perlu diketahui, saya bukan pecinta keju!

Setelah perut hangat karena kenyang, saya dan teman-teman melanjutkan jalan-jalan kami dan mulai masuk ke toko-toko yang berjajar tersebut! Saya pun keluar dari toko dengan menenteng tas belanja 🙂 Habis gimana dong, harga kaos untuk anak dan dewasa mulai dari EUR3.50 untuk merek dengan huruf Z di depannya! Bisa dibilang, Porto adalah surganya bagi  yang suka belanja!

Rua de Santa Catarina

Muka happy belanja kaos murah 😀

Sebenarnya ada banyak yang mau saya beli tapi mengingat hanya membawa koper yang kecil maka niat tersebut saya urungkan, ditambah lagi toko-toko di Porto akan tutup mulai jam 20:00. Jadi memang sepertinya semesta tidak mendukung saya untuk berbelanja lebih banyak 😀

Kami pun beranjak pulang untuk beristirahat karena keesokan harinya kami harus menghadiri Finance Summit di Ilhavo.

Di sepanjang jalan, kami tidah habis-habisnya disuguhi pemandangan bangunan bersejarah dari Porto.

Trinity Church Porto

Igreja da Santissima Trindade Porto

Gereja ini biasa dikenal dengan sebutan Trinity Church, Porto. Bangunannya berdiri pada abad ke-19 dengan gaya Neoklasik. Yang menarik, gereja ini punya tegel di bagian luar dindingnya yang berusia berabad-abad!

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.02

#neiiPRTtrip

Muka senang walau masih jetlag

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(7)

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(8)

Walau dengan penerangan seadanya, saya tetap bisa memotret jalanan Porto yang bersih!

Tungguin cerita saya selanjutnya ya!

related articles:

Porto Nautico Apartment

Tetap dengan mode was-was serta waspada, saya memperhatikan jalanan mulai dari bandara OPO sampai pusat kota Porto yang jarang sekali terlihat kendaraan dengan jumlah banyak. Sungguh pemandangan yang berbeda dengan Jakarta, selalu ramai dan macet. Ternyata, perjalanan dari bandara menuju apartemen bernama Porto Nautico yang beralamat di Rua do Almada 472, União de Freguesias do Centro, Porto hanya saya tempuh 15 menit saja!

baca juga: Nadeem and Sweet Spot

Porto Nautico kalau dilihat dari depan sih enggak terlalu istimewa. Bahkan kalau kolega saya tidak memanggil dari jendela kamar, mungkin saya akan kelewatan. Model pintu lobby apartemen di Portugal itu kecil, tidak seperti di Jakarta yang besar dan terdiri dari banyak tower. Unit pun terbatas, dalam satu apartemen hanya ada 8 unit.

Pepatah “don’t judge book by its cover” nampaknya benar! Coba deh kalian lihat apartemen Porto Nautico setelah berada di dalamnya!

LANTAI DASAR

Porto Nautico menawarkan area untuk ngobrol dengan sesama traveler dengan menyediakan living room yang nyaman.

IMG20180516095122

IMG20180516100216

di luar living room, bisa ditemukan deretan sepeda yang bisa dipakai untuk berkeliling Porto dan juga smoking area agar tidak mengganggu traveler lain yang sensitif terhadap asap rokok.

This area also connecting traveler with the awesome spot they have, an outdoor swimming pool!

LANTAI ATAS

IMG20180516095821(1)

Sayang banget saya saat itu enggak bawa swimsuit!

Tersedia juga ruang bilas setelah berenang,

IMG20180516095909

Bersih dan nyaman!

dan dari atas sini, traveler bisa melihat beberapa bangunan yang menjadi ciri khas kota Porto!

IMG20180516095348

Bisa menentukan mana gereja Fatimah mana yang bukan?

IMG20180516095525

Shameless Selfie at the top of Porto Nautico apartment 😀

IMG20180516095928

IMG20180516100147

Pengen banget bawa pulang tegel-nya!

Kece ya apartemen ini, setiap sudutnya diperhatikan dengan detil! Kira-kira seperti ini unit apartemen yang saya tempati bersama kedua kolega saya yang berasal dari Singapura dan Vietnam,

UNIT KAMAR

IMG20180516084452

Apartemen ini terdiri atas 1 ranjang double, 2 sofa, 1 meja dan kursi untuk bekerja, tersedia pantry dan kamar mandi yang bersih. Sayangnya, karena terburu-buru, saya tidak sempat memotret penampakan kamar mandi seperti apa. Tapi buat saya yang sangat rewel untuk urusan kamar mandi, Porto Nautico memberikan kamar mandi yang bersih dan tertata rapi!

IMG20180516075237

My morning view at Porto Nautico Apartment

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke Porto Nautico Apartment bersama keluarga!

Obrigado Porto Nautico!

related articles: