Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona

Dulu, saya pernah naksir mati-matian sama seseorang tapi takut menyatakan cinta karena masih punya pemikiran orang zaman old, bahwa perempuan itu akan dicap agresif kalau menyatakan cinta kepada laki-laki. Padahal saat itu, dia mendapatkan beasiswa S2 di negeri kangguru dan kalau saya enggak menyatakan cinta kepadanya pasti akan ada orang lain yang akhirnya jadi pacarnya. Dan beneran aja, setelah menyelesaikan S2-nya dia menikah dengan mantan pacarnya yang sering putus nyambung.

Nyesel gak saya? Kalau dibilang nyesel sih udah pasti, karena dia belakangan baru tahu kalau saya beneran cinta mati sama dia tapi enggak berani menyatakan 🙂

Atau, kalian pernah punya kisah cinta saat SMA? Kamu naksir seseorang tapi ternyata orang yang kamu taksir itu suka sama orang lain… atau kamu takut menerima kenyataan kalau hubungan pertemanan kalian akan jadi sulit kalau dilanjutkan ke arah pacaran?

Beberapa bulan lalu, saya membaca ulang novel yang ditulis 4 orang sekaligus, Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita. Kenapa membaca ulang? Jujur saja, saat membaca pertama kali, saya tergesa-gesa membacanya sehingga mudah lupa. Selain itu, karena novel tersebut akan diangkat ke layar lebar maka saya merasa perlu mengingat kembali bagaimana jalan ceritanya agar dapat menikmati film secara utuh.

IMG20180613170736

13 September 2018, saya diundang untuk menghadiri Gala Premiere Belok Kanan Barcelona oleh Adithya Mulya dan Ninit Yunita. Mendapatkan jadwal menonton yang baru mulai jam 20:30 dan mungkin akan selesai jam 22:30 tidak menyurutkan niat saya untuk melihat film Belok Kanan Barcelona.

IMG-20180913-WA0016(1)

Film Belok Kanan Barcelona yang sudah tayang di bioskop sejak Kamis, 20 September 2018 dibuka dengan adegan Francis (Morgan Oey) di atas panggung sedang konser piano. Kemudian, sama seperti novelnya, Francis mengabarkan kepada sahabat-sahabatnya, Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Ucup (Deva Mahenra) tentang rencana pernikahannya.

Keempatnya adalah sahabat dekat sejak SMA. Setelah lulus, mereka menjalani kehidupan di negeri orang. Francis menjadi pianis kelas dunia yang memiliki kekasih bule yang cinta mati kepada Francis tapi tukang ngatur dan cemburuan kalau Francis menyinggung-nyinggung Retno. Retno, belajar menjadi koki di Copenhagen, Denmark. Mungkin Retno memilih profesi ini karena sebenarnya dia masih belum move on dari Francis. Waktu SMA, Retno sering membuatkan Francis rending atau membuat kue bersama Farah. Ucup, merantau sampai ke Afrika Selatan demi untuk membiayai kuliah adiknya setelah ayahnya meninggal dunia. Farah, diceritakan dalam film sebagai seorang arsitek yang meniti karir di Vietnam.

Tentu saja kabar rencana pernikahan Francis membuat kaget mereka semua, pasalnya, masih ada urusan masa lalu yang belum selesai. Francis pernah jatuh cinta kepada Retno tapi Retno menyimpan rapat-rapat perasaannya karena dia pernah dinasehati oleh kedua orangtuanya mengenai perbedaan agama yang akan membuat hubungannya dengan Francis cukup berat untuk dijalani.

Farah yang juga jatuh cinta kepada Francis memilih untuk memendam rasa karena merasa persahabatannya dengan Retno terlalu berharga untuk dirusak oleh percintaan ala remaja. Sedangkan Ucup, suka dengan Farah dan berniat menyatakan perasaannya saat masih bersekolah tapi selalu saja ada halangan.

Setelah mendengar kabar Francis akan menikah, Retno dan Farah bertekad untuk menyatakan perasaannya masing-masing sebelum semuanya terlambat!

Akankah mereka berhasil? Untuk tahu, kalian perlu nonton film Belok Kanan Barcelona. Dapatkan juga kesempatan untuk ke Barcelona gratis bareng pemain film Belok Kanan Barcelona!

IMG-20180914-WA0011

Belok Kanan Barcelona yang bergenre drama komedi sukses membuat saya tertawa dan mesem-mesem sepanjang film diputar. Lokasi syuting sangat memanjakan mata! Tentu saja dong film Belok Kanan Barcelona harus syuting di luar negeri karena kan film ini berangkat dari novel yang aslinya bercerita banyak tentang lokasi para tokohnya tinggal. Di dalam novel, kalian akan menemukan footnote tentang lokasi yang ada, dan ini membuat pengetahuan saya semakin bertambah tentang negara-negara yang Farah-Francis-Retno-Ucup kunjungi. Kini, novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona dicetak ulang dengan menggunakan sampul terbaru, go grab them in bookstore!

Advertisements

Life is The Heart of A Rainbow

Desember tahun lalu, saya melewati sebuah penunjuk jalan di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di penunjuk jalan tersebut tertera AKR Tower – Museum MACAN. Di dalam hati, saya berkata, “oh di sini toh letaknya museum MACAN.”

Museum MACAN tetiba menjadi tren kekinian apalagi suguhan feed instagram yang memanjakan mata. Museum MACAN merupakan kepanjangan dari Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara. Dulu, pergi ke museum dianggap cupu tapi kini, semua orang harus paling tidak sekali menjejakkan kaki ke museum ini. Tiket masuk museum memang tidak murah namun museum MACAN memiliki daya tarik tersendiri dengan kurasi yang keren! Contohnya, karya YAYOI KUSAMA – LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW yang berlangsung 12 Mei – 9 September 2018.

YAYOI KUSAMA

LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW

Saya sudah lama sekali ingin berkunjung ke museum MACAN ditambah lagi ada pameran seni Yayoi Kusama yang dulu pernah dipamerkan di National Gallery, Singapura dan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (QAGOMA). Keren banget kan, Indonesia bisa jadi negara yang dipilih Yayoi Kusama untuk memamerkan hasil karyanya?!

Awalnya saya mau mengajak suami beserta putra sulung saya tapi mereka seperti tidak tertarik. Mau mengajak keponakan yang sedang berkunjung ke Jakarta dari Pontianak juga rupanya bukan opsi terbaik karena kuatir mereka tidak akan menikmatinya. Akhirnya, di suatu kesempatan saya nekat pergi bersama salah seorang teman yang kebetulan punya minat yang sama tentang seni kontemporer.

Tiket masuk tur harian dibanderol sebesar Rp100.000 per satu orang dewasa. Untuk anak seharga Rp80.000 per orang dan lanjut usia hanya perlu membayar Rp90.000 per orang.

Sebelum masuk, pengunjung dapat membaca terlebih dahulu panduan museum agar semuanya nyaman.

IMG_20180827_125549

Pengunjung dapat menemukan Great Gigantic Pumpkin kemudian Dots Obsession saat akan masuk menuju pameran seni hasil karya Kusama.

Great Gigantic Pumpkin

dibuat tahun 2013 dengan bahan fiberglass reinforce plastic, urethane paint, metal 245 x 260cm

Dots Obsession

dibuat tahun 2008 dengan bahan suspended vinyl ballons, large balloon dome with mirror room, and peep-in mirror dome.

Berjejer karya Kusama saat awal-awal membuat karya seni,

Early Works

Periode awal Kusama sebagai seniman pada tahun 1940-an sangat dipengaruhi oleh kondisi Jepang yang saat itu sedang berusaha pulih dari kekalahan dari Perang Dunia II

Infinity Nets

Motif ini terinspirasi oleh pengalaman Kusama saat mengamati gelombang Samudera Pasifik dari jendela pesawat dalam perjalanannya dari Jepang menuju Amerika Serikat pada 1957

Lepas dari area Early Works dan Infinity Nets, saya masuk ke area terbatas, tidak diperbolehkan membawa kamera dan hanya pengunjung yang berusia 18+ tahun yang boleh masuk. Karena penasaran, masuklah saya dan saya berada di dalam ruangan yang bertajuk Body and Performance dengan waktu yang cukup lama.

Di dalam ruangan ini, saya mencoba untuk mengenal siapa Yayoi Kusama sebenarnya karena saya belum melakukan riset apa pun berkaitan dengan kunjungan ke pameran Life is The Heart of A Rainbow ini. Lewat cuplikan film pendek dan foto Kusama bersama hasil karyanya memberikan kesimpulan bagi saya bahwa dia memiliki kekelaman di dalam hidupnya tapi entah apa itu. Saya hanya tahu bahwa Kusama memang bergumul dengan kesehatan mentalnya dan seni merupakan satu-satunya yang dapat membuat dia tetap bertahan hidup di saat keinginan untuk bunuh diri muncul.

Belakangan, saya baru tahu setelah men-googling, Yayoi Kusama lahir di Matsumoto, Nagano, Jepang pada 22 Maret 1929. Dia mulai menulis puisi saat berumur 18 tahun sebagai bentuk pelarian atas perlakuan ibunya yang sering menghukumnya secara fisik.

Seni menjadi pelarian Kusama atas kesehatan mental yang dihadapinya sejak berumur 10 tahun. Di usia anak-anak, Kusama sering mengalami halusinasi berupa kilatan cahaya, aura dan pemandangan bintik-bintik padat. Seringkali juga dia melihat bunga yang berbicara kepadanya atau pola-pola kain yang dilihatnya menjadi hidup, berlipat ganda, lalu mengurung dan menutupi dirinya. Halusinasi ini bahkan sempat membuat Kusama terluka.

Selanjutnya, saya menuju ruangan Experiments in Japan.

Dalam periode ini, Kusama kembali menekuni motif khasnya berupa polkadot, bunga dan labu

Saat kembali ke Jepang pada 1973, Kusama menemukan bahwa tanah airnya telah berubah drastis

#ShamelessSelfie

mandatory pic if you find large mirror 😀

Dari ruangan Experiments in Japan, saya menuju ruang Love Forever

Love Forever

Gambar monokrom yang dibuat Yayoi Kusama dari pena mulai tahun 2004 hingga 2007

Saya melewatkan Infinity Mirrored Room karena harus mengantre selama 45 menit untuk masuk kedalamnya. Saya menyerah karena kaki sudah mulai sakit memakai sepatu berhak dan hari pun sudah mulai sore. Saya beranjak menuju Level 6, tempat di mana The Obliteration Room berada.

Selama lebih dari 40 tahun, Kusama membuat lukisan, patung dan karya fotografi menggunakan polkadot untuk menutupi bermacam-macam permukaan dan mengisi ruangan.

Kusama menyebut proses ini “kemusnahan” yang berarti hancur dan hilangnya suatu benda tanpa bekas sama sekali. Kusama mengundang pengunjung untuk bergabung dan bersenang-senang, menutupi seluruh mebel dan dinding di The Obliteration Room dengan polkadot warna warni! Dan lihatlah betapa senangnya saya,

IMG20180712161139.jpg

IMG20180712161416_1

Sebaiknya kalian menempelkan seluruh sticker polkadot warna warni tersebut sampai habis karena kalau ada sisa akan diminta kembali oleh petugas museum MACAN. Hal ini dilakukan agar kebersihan museum MACAN tetap terjaga.

Setelah puas mengelilingi pameran YAYOI KUSAMA – LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW, saya pun menikmati kopi suguhan One Fifteenth sambil memandangi jalanan Jakarta dari ketinggian.

IMG20180712163244(1)

What a day well spent!

Further information:

Museum MACAN
www.museummacan.org

Address: AKR Tower Level MM, Jl. Perjuangan No.5, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, 11530

Phone: +62 21 2212 1888

Opening hours: Tue-Sun 10AM-7PM

 

Apakah kalian sudah mengunjungi museum MACAN? Yuk berbagi pengalamanmu di kolom komentar!

related articles:

Strolling Around Porto #1

Setelah berkenalan dengan kolega dari Singapura dan Vietnam, saya bergegas bebersih karena kami akan berjalan sore sambil mencari makan malam.

Dan inilah pemandangan saat saya jalan-jalan sore di sekitar Porto.

Blue Sky in Porto

Ini penampakan pedestrian walking area di Porto jam 18:00

Strolling Around Porto #1

Sepertinya ini bagian dari jalanan di area City Hall

Senang sekali saya melihat pedestrian walking area di Porto, bersih! Walau terbuat dari conblock, enggak ada tuh warganya yang iseng nyongkel 😀

Dalam perjalanan dari apartemen Porto Nautico menuju Rua de Santa Catarina, saya menyempatkan mampir di toko suvenir untuk membeli oleh-oleh buat rekan kerja di kantor. Lagi-lagi, saya terlalu menikmati melihat-lihat sampai tidak sempat berfoto di toko tersebut.

Ternyata di Porto banyak bertebaran coffee shop! Tadinya saya pikir di Porto jarang kedai kopi karena minuman andalannya adalah sweet red wine yang biasanya dikenal dengan sebutan Vinho do Porto. Tapi sayangnya saya tidak punya kesempatan untuk mencicipi kopi Porto karena waktu yang terbatas.

Sanzala merupakan coffee shop tertua di Porto. Berdiri sejak 1963, Sanzala tetap eksis di tengah persaingan coffee shop yang lebih modern. Menarik ya?!

Sanzala in Porto

Coffee anyone?

Karena perut sudah berontak kelaparan maka kami mampir ke sebuah restoran yang terletak di Rua de Santa Catarina, di mana di sepanjang jalan terdapat toko branded fashion and apparel.

Untuk ukuran orang Portugal, makan malam kami termasuk yang jamnya terlalu cepat karena biasanya mereka makan malam pada jam 20:00.

Kami pun menjatuhkan pilihan di restoran Porto Duoro tanpa melihat rekomendasi dari google. Dan ternyata pilihan kami tidak salah karena di dalam ada pemandangan keluar yang memanjakan mata!

Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Saking lapernya, saya sampai enggak sempat foto penampakan restaraunte Porto Duoro

Di Porto, semua makanan akan disajikan dengan asinan buah zaitun. Rasanya unik dan baru kali ini saya mencoba buah zaitun asli soalnya selama ini kan tahunya hanya minyaknya saja. Buahnya sendiri kebanyakan diasinkan mungkin karena kecut maka perlu rasa lain agar kecutnya tidak mendominasi.

Restaurante Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Keju Porto

Selain wine, Porto terkenal dengan kejunya dan benar, setelah saya coba keju Porto memang nikmat, perlu diketahui, saya bukan pecinta keju!

Setelah perut hangat karena kenyang, saya dan teman-teman melanjutkan jalan-jalan kami dan mulai masuk ke toko-toko yang berjajar tersebut! Saya pun keluar dari toko dengan menenteng tas belanja 🙂 Habis gimana dong, harga kaos untuk anak dan dewasa mulai dari EUR3.50 untuk merek dengan huruf Z di depannya! Bisa dibilang, Porto adalah surganya bagi  yang suka belanja!

Rua de Santa Catarina

Muka happy belanja kaos murah 😀

Sebenarnya ada banyak yang mau saya beli tapi mengingat hanya membawa koper yang kecil maka niat tersebut saya urungkan, ditambah lagi toko-toko di Porto akan tutup mulai jam 20:00. Jadi memang sepertinya semesta tidak mendukung saya untuk berbelanja lebih banyak 😀

Kami pun beranjak pulang untuk beristirahat karena keesokan harinya kami harus menghadiri Finance Summit di Ilhavo.

Di sepanjang jalan, kami tidah habis-habisnya disuguhi pemandangan bangunan bersejarah dari Porto.

Trinity Church Porto

Igreja da Santissima Trindade Porto

Gereja ini biasa dikenal dengan sebutan Trinity Church, Porto. Bangunannya berdiri pada abad ke-19 dengan gaya Neoklasik. Yang menarik, gereja ini punya tegel di bagian luar dindingnya yang berusia berabad-abad!

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.02

#neiiPRTtrip

Muka senang walau masih jetlag

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(7)

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(8)

Walau dengan penerangan seadanya, saya tetap bisa memotret jalanan Porto yang bersih!

Tungguin cerita saya selanjutnya ya!

related articles:

Porto Nautico Apartment

Tetap dengan mode was-was serta waspada, saya memperhatikan jalanan mulai dari bandara OPO sampai pusat kota Porto yang jarang sekali terlihat kendaraan dengan jumlah banyak. Sungguh pemandangan yang berbeda dengan Jakarta, selalu ramai dan macet. Ternyata, perjalanan dari bandara menuju apartemen bernama Porto Nautico yang beralamat di Rua do Almada 472, União de Freguesias do Centro, Porto hanya saya tempuh 15 menit saja!

baca juga: Nadeem and Sweet Spot

Porto Nautico kalau dilihat dari depan sih enggak terlalu istimewa. Bahkan kalau kolega saya tidak memanggil dari jendela kamar, mungkin saya akan kelewatan. Model pintu lobby apartemen di Portugal itu kecil, tidak seperti di Jakarta yang besar dan terdiri dari banyak tower. Unit pun terbatas, dalam satu apartemen hanya ada 8 unit.

Pepatah “don’t judge book by its cover” nampaknya benar! Coba deh kalian lihat apartemen Porto Nautico setelah berada di dalamnya!

LANTAI DASAR

Porto Nautico menawarkan area untuk ngobrol dengan sesama traveler dengan menyediakan living room yang nyaman.

IMG20180516095122

IMG20180516100216

di luar living room, bisa ditemukan deretan sepeda yang bisa dipakai untuk berkeliling Porto dan juga smoking area agar tidak mengganggu traveler lain yang sensitif terhadap asap rokok.

This area also connecting traveler with the awesome spot they have, an outdoor swimming pool!

LANTAI ATAS

IMG20180516095821(1)

Sayang banget saya saat itu enggak bawa swimsuit!

Tersedia juga ruang bilas setelah berenang,

IMG20180516095909

Bersih dan nyaman!

dan dari atas sini, traveler bisa melihat beberapa bangunan yang menjadi ciri khas kota Porto!

IMG20180516095348

Bisa menentukan mana gereja Fatimah mana yang bukan?

IMG20180516095525

Shameless Selfie at the top of Porto Nautico apartment 😀

IMG20180516095928

IMG20180516100147

Pengen banget bawa pulang tegel-nya!

Kece ya apartemen ini, setiap sudutnya diperhatikan dengan detil! Kira-kira seperti ini unit apartemen yang saya tempati bersama kedua kolega saya yang berasal dari Singapura dan Vietnam,

UNIT KAMAR

IMG20180516084452

Apartemen ini terdiri atas 1 ranjang double, 2 sofa, 1 meja dan kursi untuk bekerja, tersedia pantry dan kamar mandi yang bersih. Sayangnya, karena terburu-buru, saya tidak sempat memotret penampakan kamar mandi seperti apa. Tapi buat saya yang sangat rewel untuk urusan kamar mandi, Porto Nautico memberikan kamar mandi yang bersih dan tertata rapi!

IMG20180516075237

My morning view at Porto Nautico Apartment

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke Porto Nautico Apartment bersama keluarga!

Obrigado Porto Nautico!

related articles:

Nadeem and Sweet Spot

Setelah drama yang cukup melelahkan, akhirnya saya naik kedalam pesawat menuju Frankfurt (FRA). Seperti biasa, di dalam pesawat saya diberikan makanan dan minuman. Akhirnya, saya bisa makan juga setelah menahan lapar karena ketinggalan pesawat dari Munich (MUC) menuju Porto (OPO). Walau perut sudah kenyang, saya masih memikirkan koper yang terpisah. Duh, mudah-mudahan saja tidak hilang!

Perjalanan MUC-FRA hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja dan saya pun mengambil ponsel kemudian memotret kota FRA dari ketinggian.

IMG20180515123939IMG20180515124003IMG20180515124427IMG20180515124855

Pesawat mendarat dengan sempurna dan saya pun bergegas mengejar pesawat selanjutnya. Belajar dari pengalaman boarding gate yang berubah tiba-tiba menjelang keberangkatan, saya tidak melepas pandangan dari layar monitor! Karena pesawat dari MUC delay maka saat mendarat di FRA, saya pun berlari menuju boarding gate sesuai yang disebutkan di layar monitor!

Singkat cerita, akhirnya saya masuk kedalam pesawat dari FRA menuju OPO! Saya duduk bersebelahan dengan seorang pria paruh baya, namanya Nadeem. Kami pun akhirnya ngobrol sepanjang perjalanan. Yuk, saya kenalin dengan Nadeem 🙂

Nadeem merupakan pria kelahiran Mesir yang kini berkebangsaan Amerika dan tinggal di Seattle. Dia memiliki dua anak laki-laki yang sudah dewasa dan salah satu anaknya sedang berada di Denmark. Nadeem memiliki kapal kecil yang dinamakan Sweet Spot dan dia pernah keliling beberapa negara di Eropa dengan mengendarai Sweet Spot! Kali ini perjalanannya ke OPO adalah untuk mereparasi Sweet Spot. Semoga Sweet Spot lekas pulih ya, Nadeem!

Enggak terasa, pesawat pun akhirnya mendarat di OPO. Sambil mengucapkan salam perpisahan dengan Nadeem, saya bergegas menuju bagian Lost and Found bandara OPO. Anehnya, saya tidak menemukan koper saya! Jantung saya berdetak lebih kencang lagi namun saya mencoba tetap tenang. Saya berjalan menuju conveyor belt sambil menunggu dan itu dia koper saya! Bersyukur akhirnya saya bisa ganti baju selama Summit nanti 🙂

Urusan koper selesai, saya berusaha mencari informasi di mana saya bisa mengantre taksi. Tapi karena petugas informasi bandara kurang fasih menjelaskan dalam bahasa asing, saya cukup kebingungan mencari antrean taksi. Saya sempat melihat Nadeem dan tadinya berpikir mau minta tolong untuk dipanggilkan taksi tapi niat itu saya urungkan.

Saya pun mencoba mengelilingi bandara dan mempelajari jalur keluar masuknya. Setelah sekian lama, barulah saya beranjak menuju pintu keluar dan menemukan antrean taksi yang ramai menurunkan maupun mennaikkan penumpang. Saya baru tahu kalau di OPO, taksi itu tidak memiliki warna ataupun armada yang sama persis. Kalau di Jakarta atau New York, kita bisa dengan mudah mengenali taksi cukup dari melihat warnanya saja, tapi di OPO berbeda.

Awalnya saya ragu menaiki taksi tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada taksi tepat di depan saya. Syukurlah ternyata supir taksinya bisa berbahasa Inggris dengan baik! Saya pun diantar menuju apartemen tempat saya akan menginap dengan selamat! Oh ya, taksi di OPO hanya menggunakan kuitansi dengan tulisan tangan. Dengan jarak 16 km dari bandara OPO menuju Rua do Almada, tarif taksi yang saya bayarkan sebesar EUR25.35 atau setara dengan IDR425.120! Lumayan mahal 🙂

Kalau kalian, pernah kenalan dengan sesama penumpang di pesawat atau memilih untuk tidur selama perjalanan?

related articles:

Still Water VS Water

Hello all, I am back for more stories about my trip my adventure to Portugal!

baca cerita sebelumnya di:  Flight Across Continent part 2

Yuk kita lanjutin apa yang terjadi setelah saya akhirnya tiba di depan boarding gate G24 yang kosong!

Melihat boarding gate yang kosong, saya langsung menuju ke service counter maskapai penerbangan yang saya gunakan. Sampai di service counter, saya mendapatkan informasi bahwa pesawat sudah take off!

Dooorr!

Akhirnya saya diarahkan petugas maskapai penerbangan menuju ke ticket counter untuk informasi selanjutnya. Di daerah ticket counter sudah banyak penumpang yang mengantre, sebagian membeli tiket pesawat on the spot, sebagian lagi yang baru saja mengalami kejadian serupa dengan saya.

Yang saya rasakan saat ketinggalan pesawat adalah panik! Panik tentang koper yang terpisah dan panik akan perjalanan selanjutnya. Enggak lucu kan kalau koper saya hilang entah kemana dan saya hanya memakai baju satu-satunya di Global Finance Summit!

Padahal apabila penerbangan saya on schedule, saya bisa bertemu dengan kolega di bandara Porto, Portugal (OPO) dan bersama dengannya menuju apartemen tempat kami akan menginap. Saya juga punya kekhawatiran tentang tiket pesawat yang hangus dan bagaimana cara menuju apartemen dari bandara.

Setelah menunggu sesaat, tibalah saya di depan petugas ticketing. Saya berusaha tenang dan menyampaikan kalau saya tidak mendapatkan informasi mengenai berpindahnya boarding gate sehingga ketinggalan pesawat. Kemudian petugas ticketing memproses keluhan saya dan saya mendapatkan penerbangan selanjutnya tapi harus transit ke Frankfurt (FRA) terlebih dahulu sebelum mendarat di OPO karena itu satu-satunya penerbangan yang tersedia untuk hari itu. Saya diminta untuk memperhatikan layar monitor setibanya saya di FRA dan tiket pesawat rute terbaru diberikan secara cuma-cuma, Puji Tuhan!

Saya perlu menunggu sekitar kurang lebih 2 jam untuk boarding pada jam 10:35 dari MUC menuju FRA.Sedikit waktu yang tersisa saya gunakan untuk memotret isi bandara MUC yang menyediakan working station bersebelahan dengan playground untuk anak.

IMG20180515061453(1)IMG20180515063921(1)

Karena takut tertinggal pesawat lagi, saya memutuskan untuk menunggu dekat monitor dan melupakan sarapan pagi, sudah tidak selera. Akhirnya saya hanya membeli air minum kemasan botol, namun karena bingung dengan istilah yang tertera di kemasan, saya pun dengan mantap mengambil botol dengan keterangan “WATER”.

Kebiasaan meminum air bening dalam jumlah yang cukup membantu saya untuk tetap terhidrasi apalagi saya  punya kecenderungan memiliki kulit yang kering. Pernah lho seharian di ruangan ber-AC dan kurang minum air bening membuat saya memiliki medan listrik dan bisa “menyetrum” orang yang berdekatan dengan saya.

baca juga:  Minum Air Putih Saja Tidak Cukup!

Rasa haus yang sudah tidak tertahankan akhirnya akan terpuaskan dengan air yang baru saja saya beli. Saya pun buru-buru membuka tutup botol dan meminum air tersebut. Dan, setelah saya meminum air tersebut ada rasa soda di lidah…. wah, ternyata saya salah membeli air minum! For Your Information, di Eropa, air minum itu terdiri atas 2 varian, dengan sebutan STILL WATER dan WATER.

Bedanya, STILL WATER merupakan air bening tanpa rasa yang biasa kita minum sehari-hari. Sedangkan WATER merupakan air berkarbonasi yang biasa juga dikenal dengan sebutan sparkling water. Jadi, kalau di restoran, harus lengkap menyebut STILL WATER apabila ingin air bening saja… kalau hanya menyebut WATER, kita akan diberikan sparkling water. Mau enggak mau deh saya harus menghabiskan sprakling water tersebut, mudah-mudahan saja tidak sakit perut karena saya belum makan siang sama sekali sejak pesawat mendarat di MUC.

Sambil menunggu, saya kembali mengecek email dan ternyata saya mendapatkan email dari maskapai penerbangan bahwa boarding gate penerbangan MUC ke Porto, Portugal (OPO) berubah dikirim tepat jam 08:15. Mungkin ini juga yang membuat saya tidak membayar tiket untuk penerbangan MUC-FRA. Selain itu, penerbangan dari MUC-FRA delay padahal sampai jam 12:00 padahal saya sudah harus boarding lagi dari FRA-OPO pada jam 13:15!

Kepanikan saya ternyata belum usai karena penerbangan MUC-FRA yang delay dan apakah yang terjadi selanjutnya dengan saya? Stay tune for more stories about my trip my adventure to Portugal!

Kalau kalian, pernah mengalami ketinggalan pesawat atau enggak pernah? Kalau pernah, bagaimana kalian mengatasinya? Let’s share!

Flight Across Continent part 2

Masih ingat kan cerita saya pada bagian pertama perjalanan ke benua Eropa?

Setelah transit yang singkat di Changi, saya akhirnya masuk pesawat menuju Munich. Saya mendapatkan kursi di sayap kanan dan menghadap jendela. Walau menghadap jendela, enggak banyak yang bisa saya lihat karena sudah malam dan memang sudah jamnya tidur di dalam pesawat.

Di sebelah saya adalah sepasang suami istri yang mau kembali ke negaranya setelah liburan ke Singapura. Saya pun enggak mau terlalu banyak ngobrol dengan mereka karena khawatir mengganggu jam istirahat mereka. Namun ada perasaan nyaman saat mengetahui penumpang di sebelah saya adalah pasutri tersebut sehingga saya bisa dengan tenang terlelap dalam tidur.

Beberapa saat setelah take off ada kudapan dan minuman yang ditawarkan pramugari. Karena merasa perut masih penuh akibat makan malam yang disuguhkan saat perjalanan CGK-SIN, saya pun memilih untuk minum saja sambil menonton film.

Singkat cerita, saya pun tertidur (sesekali terbangun-kemudian tidur lagi-lalu bangun) sampai matahari mulai menjelang yang tandanya sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandar Udara Munchen (MUC). Melihat perubahan angkasa dari gelap menuju terang, saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk memotret langit yang indah.

IMG20180515081645

IMG20180515093250

IMG20180515102017

Yeay! akhirnya saya sampai juga menginjakkan kaki di MUC dengan pendaratan yang mulus. Saya tiba jam 05.25 waktu setempat dan toko-toko di dalam bandara belum ada yang buka kecuali coffee shop. Namun karena letak coffee shop dengan boarding gate agak berjauhan maka saya langsung menuju gate K09 yang tercetak di boarding pass.

MUC merupakan bandara tersibuk kedua di Jerman dalam hal lalu lintas penumpang dan juga sebagai bandara tersibuk keenam di benua Eropa.

Penerbangan saya selanjutnya menuju Porto, Portugal dimulai jam 08:15 membuat saya masih bisa video call dengan keluarga mengandalkan free wifi yang tersedia di MUC. Selesai bertukar kabar dengan keluarga, saya pun langsung mengatur kamera ponsel untuk selfie dan memotret suasana di landasan terbang dengan matahari yang bersinar dengan gagahnya!

IMG20180515062034

Enggak lupa juga dong saya mengecek email dan submit beberapa pekerjaan kantor sambil menunggu waktu boarding. Jam setempat menunjukan pukul 07:30, tapi kenapa suasana depan boarding gate masih saja sepi. Ternyata memang biasanya petugas yang menjaga gate akan standby 30 menit menjelang waktu boarding.

Akhirnya waktu yang tersisa pun saya gunakan untuk membaca novel Dee Lestari yang terbaru, yaitu Aroma Karsa.

IMG20180515062751

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 08:10 dan ada petugas yang mulai berdatangan. Kemudian dengan pede saya menunjukkan boarding pass kepada petugas tapi melihat raut wajah si petugas… batin saya berkata ,”ada yang enggak beres nih!”

Dan, ternyata benar…. boarding gate saya berubah! dari K09 menjadi G24. Secepat kilat saya berlari menuju G24 tapi ternyata untuk menuju gate tersebut saya harus menggunakan skytrain yang artinya K09 dan G24 terletak di terminal yang berbeda. Setelah tiba di terminal yang dimaksud, saya kembali berlari secepat mungkin…. lumayan deh ya latihan lari selama ini kepake juga akhirnya untuk ngejar pesawat 🙂

Namun, saat saya tiba di depan G24, tidak ada seorang petugas pun! Juga tidak ada pesawat yang sedang parkir!

Kira-kira nih, apa yang terjadi dengan saya selanjutnya? Ikuti terus cerita saya selanjutnya tentang perjalanan ke benua Eropa untuk pertama kalinya ya!

IMG20180515063617

Cerita lanjutan bisa dibaca di https://honeyjosep.wordpress.com/2018/07/11/still-water-vs-water/

related article  Buat Visa Schengen Tanpa Agen Perjalanan