Strolling Around Porto #1

Setelah berkenalan dengan kolega dari Singapura dan Vietnam, saya bergegas bebersih karena kami akan berjalan sore sambil mencari makan malam.

Dan inilah pemandangan saat saya jalan-jalan sore di sekitar Porto.

Blue Sky in Porto

Ini penampakan pedestrian walking area di Porto jam 18:00

Strolling Around Porto #1

Sepertinya ini bagian dari jalanan di area City Hall

Senang sekali saya melihat pedestrian walking area di Porto, bersih! Walau terbuat dari conblock, enggak ada tuh warganya yang iseng nyongkel 😀

Dalam perjalanan dari apartemen Porto Nautico menuju Rua de Santa Catarina, saya menyempatkan mampir di toko suvenir untuk membeli oleh-oleh buat rekan kerja di kantor. Lagi-lagi, saya terlalu menikmati melihat-lihat sampai tidak sempat berfoto di toko tersebut.

Ternyata di Porto banyak bertebaran coffee shop! Tadinya saya pikir di Porto jarang kedai kopi karena minuman andalannya adalah sweet red wine yang biasanya dikenal dengan sebutan Vinho do Porto. Tapi sayangnya saya tidak punya kesempatan untuk mencicipi kopi Porto karena waktu yang terbatas.

Sanzala merupakan coffee shop tertua di Porto. Berdiri sejak 1963, Sanzala tetap eksis di tengah persaingan coffee shop yang lebih modern. Menarik ya?!

Sanzala in Porto

Coffee anyone?

Karena perut sudah berontak kelaparan maka kami mampir ke sebuah restoran yang terletak di Rua de Santa Catarina, di mana di sepanjang jalan terdapat toko branded fashion and apparel.

Untuk ukuran orang Portugal, makan malam kami termasuk yang jamnya terlalu cepat karena biasanya mereka makan malam pada jam 20:00.

Kami pun menjatuhkan pilihan di restoran Porto Duoro tanpa melihat rekomendasi dari google. Dan ternyata pilihan kami tidak salah karena di dalam ada pemandangan keluar yang memanjakan mata!

Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Saking lapernya, saya sampai enggak sempat foto penampakan restaraunte Porto Duoro

Di Porto, semua makanan akan disajikan dengan asinan buah zaitun. Rasanya unik dan baru kali ini saya mencoba buah zaitun asli soalnya selama ini kan tahunya hanya minyaknya saja. Buahnya sendiri kebanyakan diasinkan mungkin karena kecut maka perlu rasa lain agar kecutnya tidak mendominasi.

Restaurante Porto Duoro, Rua de Santa Catarina, 155 Porto

Keju Porto

Selain wine, Porto terkenal dengan kejunya dan benar, setelah saya coba keju Porto memang nikmat, perlu diketahui, saya bukan pecinta keju!

Setelah perut hangat karena kenyang, saya dan teman-teman melanjutkan jalan-jalan kami dan mulai masuk ke toko-toko yang berjajar tersebut! Saya pun keluar dari toko dengan menenteng tas belanja 🙂 Habis gimana dong, harga kaos untuk anak dan dewasa mulai dari EUR3.50 untuk merek dengan huruf Z di depannya! Bisa dibilang, Porto adalah surganya bagi  yang suka belanja!

Rua de Santa Catarina

Muka happy belanja kaos murah 😀

Sebenarnya ada banyak yang mau saya beli tapi mengingat hanya membawa koper yang kecil maka niat tersebut saya urungkan, ditambah lagi toko-toko di Porto akan tutup mulai jam 20:00. Jadi memang sepertinya semesta tidak mendukung saya untuk berbelanja lebih banyak 😀

Kami pun beranjak pulang untuk beristirahat karena keesokan harinya kami harus menghadiri Finance Summit di Ilhavo.

Di sepanjang jalan, kami tidah habis-habisnya disuguhi pemandangan bangunan bersejarah dari Porto.

Trinity Church Porto

Igreja da Santissima Trindade Porto

Gereja ini biasa dikenal dengan sebutan Trinity Church, Porto. Bangunannya berdiri pada abad ke-19 dengan gaya Neoklasik. Yang menarik, gereja ini punya tegel di bagian luar dindingnya yang berusia berabad-abad!

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.02

#neiiPRTtrip

Muka senang walau masih jetlag

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(7)

WhatsApp Image 2018-08-21 at 08.52.01(8)

Walau dengan penerangan seadanya, saya tetap bisa memotret jalanan Porto yang bersih!

Tungguin cerita saya selanjutnya ya!

related articles:

Advertisements

Porto Nautico Apartment

Tetap dengan mode was-was serta waspada, saya memperhatikan jalanan mulai dari bandara OPO sampai pusat kota Porto yang jarang sekali terlihat kendaraan dengan jumlah banyak. Sungguh pemandangan yang berbeda dengan Jakarta, selalu ramai dan macet. Ternyata, perjalanan dari bandara menuju apartemen bernama Porto Nautico yang beralamat di Rua do Almada 472, União de Freguesias do Centro, Porto hanya saya tempuh 15 menit saja!

baca juga: Nadeem and Sweet Spot

Porto Nautico kalau dilihat dari depan sih enggak terlalu istimewa. Bahkan kalau kolega saya tidak memanggil dari jendela kamar, mungkin saya akan kelewatan. Model pintu lobby apartemen di Portugal itu kecil, tidak seperti di Jakarta yang besar dan terdiri dari banyak tower. Unit pun terbatas, dalam satu apartemen hanya ada 8 unit.

Pepatah “don’t judge book by its cover” nampaknya benar! Coba deh kalian lihat apartemen Porto Nautico setelah berada di dalamnya!

LANTAI DASAR

Porto Nautico menawarkan area untuk ngobrol dengan sesama traveler dengan menyediakan living room yang nyaman.

IMG20180516095122

IMG20180516100216

di luar living room, bisa ditemukan deretan sepeda yang bisa dipakai untuk berkeliling Porto dan juga smoking area agar tidak mengganggu traveler lain yang sensitif terhadap asap rokok.

This area also connecting traveler with the awesome spot they have, an outdoor swimming pool!

LANTAI ATAS

IMG20180516095821(1)

Sayang banget saya saat itu enggak bawa swimsuit!

Tersedia juga ruang bilas setelah berenang,

IMG20180516095909

Bersih dan nyaman!

dan dari atas sini, traveler bisa melihat beberapa bangunan yang menjadi ciri khas kota Porto!

IMG20180516095348

Bisa menentukan mana gereja Fatimah mana yang bukan?

IMG20180516095525

Shameless Selfie at the top of Porto Nautico apartment 😀

IMG20180516095928

IMG20180516100147

Pengen banget bawa pulang tegel-nya!

Kece ya apartemen ini, setiap sudutnya diperhatikan dengan detil! Kira-kira seperti ini unit apartemen yang saya tempati bersama kedua kolega saya yang berasal dari Singapura dan Vietnam,

UNIT KAMAR

IMG20180516084452

Apartemen ini terdiri atas 1 ranjang double, 2 sofa, 1 meja dan kursi untuk bekerja, tersedia pantry dan kamar mandi yang bersih. Sayangnya, karena terburu-buru, saya tidak sempat memotret penampakan kamar mandi seperti apa. Tapi buat saya yang sangat rewel untuk urusan kamar mandi, Porto Nautico memberikan kamar mandi yang bersih dan tertata rapi!

IMG20180516075237

My morning view at Porto Nautico Apartment

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke Porto Nautico Apartment bersama keluarga!

Obrigado Porto Nautico!

related articles:

Pink Talk with SORELLA

Minggu lalu, aku dilanda kesedihan karena baru kehilangan sahabat SMA. Dia sempat menjadi penyintas kanker payudara tapi belakangan ditemukan kembali kanker di organ hatinya.

Hal tersebut membuatku menjadi perlu tahu mengenai kanker khususnya kanker payudara melalui SORELLA Pink Talk: Breast Cancer Awareness beberapa waktu lalu dengan narasumber dr. Ratna dari RSIA Budhijaya.

IMG20180526160400

Sebagai perempuan, kita harus bersyukur karena dianugerahi organ tubuh yang indah seperti payudara dan unik seperti rahim. Tidak hanya indah dan unik, payudara dan rahim harus dijaga dengan baik.

Kita tahu kan kalau tubuh manusia terdiri dari sel-sel? Nah kanker merupakan jaringan sel yang bertumbuh tidak dengan seharusnya. Kanker payudara merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh perempuan di dunia. Setiap detiknya, di dunia ditemukan kasus baru kanker payudara sehingga penyakit ini juga merupakan pembunuh utama perempuan.

Bahkan, di Asia trennya semakin banyak yang terkena kanker payudara di bawah usia 40 tahun  dan biasanya sudah terdiagnosa setelah stadium lanjut. Perempuan yang memiliki faktor risiko terkena kanker payudara adalah mereka yang:

  • Kelebihan berat badan
  • Mengkonsumsi alkohol dan merokok
  • Mendapatkan menstruasi di bawah umur 12 tahun
  • Belum pernah melahirkan atau melahirkan di atas umur 35 tahun
  • Menggunakan kontrasepsi oral
  • Melakukan terapi hormon terkait fertilitas
  • Tidak menyusui
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker

Sebagian besar perempuan tidak aware dengan kanker payudara karena beberapa hal berikut:

  • Organ payudara yang tertutup
  • Mahalnya biaya pemeriksaan klinis
  • Kurangnya pengetahuan mengenai kanker payudara
  • Takut terdiagnosa kanker payudara

Walau mahalnya biaya pemeriksaan klinis, perempuan bisa lho melakukan deteksi dini kanker payudara dengan cara Periksa Payudara Sendiri (SADARI).  SADARI menjadi penting karena apabila kanker payudara ditemukan pada stadium awal memiliki survival rate yang tinggi.

Breast self exam, breast cancer monthly examination infographic

Kalau menemukan benjolan, jangan panik tapi langsung konsultasi ke dokter. 9 dari 10 benjolan di payudara biasanya bukan kanker. Untuk pemeriksaan akurat perlu dilakukan rontgent, laboratorium hingga biopsi oleh dokter.

Kanker payudara memiliki ciri khas selain benjolan keras pada salah satu payudara yaitu,

  • Permukaan payudara tidak rata
  • Benjolan tidak mudah digerakkan
  • Kemerahan pada kulit payudara
  • Kulit payudara seperti kulit jeruk
  • Luka tak kunjung sembuh di area payudara

Agar terhindar dari kanker payudara, dr Ratna menyarankan agar perempuan mengurangi konsumsi lemak, tetap bergerak aktif dan melakukan pemeriksaan dini seperti SADARI, dan pemeriksaan klinis ke dokter.

Di acara SORELLA Pink Talk: Breast Cancer Awareness, hadir pula Ibu Mitha Purba, penyintas kanker sekaligus Head of Support & Counselling Unit and Breast Cancer Survivor dari Love Pink Indonesia.

IMG20180526170551

Ibu Mitha bercerita bahwa pada tahun 2000 di umurnya yang ke-34 tahun, dia menderita kanker tiroid  stadium lanjut. Dokter memvonis kesempatan hidupnya hanya tinggal 6 bulan saja. Tentu saja hancur hati Ibu Mitha mendengar berita tersebut dan langsung teringat kedua anaknya yang masih kecil. Dia sempat tawar menawar dengan Tuhan, kalau boleh diberi kesempatan hidup sampai anaknya masuk SD karena menurutnya, apabila anak-anak sudah masuk SD, mereka sudah bisa mengurus diri mereka sendiri.

Anak-anak merupakan motivasi Ibu Mitha untuk melawan kanker tiroid yang dideritanya dan setelah berjuang selama 5 tahun, dia dinyatakan sembuh dari kanker tiroid.

Walau sudah berhasil melawan kanker tiroid, Ibu Mitha tidak meninggalkan gaya hidupnya sebagai perokok berat. Akibat kelalaiannya, pada tahun 2014, ditemukan 5 benjolan di dadanya dan divonis menderita kanker payudara stadium 3B. Ibu Mitha berpesan kepada perempuan yang hadir agar jangan lalai memeriksakan payudara karena kebanyakan hanya peduli memeriksakan kandungan melalui papsmear.

Hanya dibutuhkan waktu selama 4 hari bagi Ibu Mitha untuk memutuskan memerangi kanker payudara yang dideritanya. Pengobatan yang dilakukan bermula dari kemoterapi sebanyak 8 kali. Dilanjutkan dengan operasi pengangkatan payudara yang menyebabkan dia menjadi WTS (Wanita Tanpa Susu) dan diakhiri dengan rencana radiasi sebanyak 30 kali. Akan tetapi pada radiasi yang ke-25, sel kanker sudah tidak ada lagi dan prognosisnya bagus maka Ibu Mitha bisa beraktivitas seperti sediakala.

Sebagai wujud terimakasihnya kepada hidup, Ibu Mitha mendedikasikan dirinya di komunitas Love Pink Indonesia yang membantu mensosialisasikan deteksi dini kanker payudara dengan SADARI. Selain SADARI, perempuan Indonesia dengan rentang umur 25 tahun-35 tahun dapat mendeteksi kanker payudara dengan USG Mammae, di atas 40 tahun dengan mammografi.

Walau Ibu Mitha sudah menjadi WTS, dia masih memerlukan bra dari SORELLA. Kenapa? Anatomi payudara yang mengandung lemak, kelenjar, jaringan ikat dan cairan berfungsi untuk melawan gaya berat dari jaringan dan kulit yang menutupnya. Saat dilakukan mastektomi semuanya hilang sehingga kebanyakan perempuan akan membungkuk dan lama kelamaan postur tubuh seperti ini bila dibiarkan akan menimbulkan gangguan tulang belakang. Maka walaupun telah dilakukan mastektomi, perempuan tetap butuh memakai bra. Dan perlu diketahui juga bahwa memakai bra tidak terbukti meningkatkan risiko kanker payudara.

Nah, bra seperti apa yang dapat membantu penyintas kanker payudara?

Sorella, produk pakaian dalam yang berasal dari Taiwan hadir di Indonesia sejak 33 tahun lalu dan sudah menjadi top brand selama 7 tahun berturut-turut. Sorella memiliki varian bra yang disebut mastektomi dan menjual mastektomi pad. Bra mastektomi dari Sorella memiliki fitur padding yang dapat dilepaskan.

Produk ini dapat ditemukan di offline (department store) maupun online store (store).

Semoga dengan artikel ini perempuan Indonesia semakin menyadari pentingnya untuk pemeriksaan dini kanker payudara baik melalui SADARI atau mengunjungi dokter.

Nadeem and Sweet Spot

Setelah drama yang cukup melelahkan, akhirnya saya naik kedalam pesawat menuju Frankfurt (FRA). Seperti biasa, di dalam pesawat saya diberikan makanan dan minuman. Akhirnya, saya bisa makan juga setelah menahan lapar karena ketinggalan pesawat dari Munich (MUC) menuju Porto (OPO). Walau perut sudah kenyang, saya masih memikirkan koper yang terpisah. Duh, mudah-mudahan saja tidak hilang!

Perjalanan MUC-FRA hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja dan saya pun mengambil ponsel kemudian memotret kota FRA dari ketinggian.

IMG20180515123939IMG20180515124003IMG20180515124427IMG20180515124855

Pesawat mendarat dengan sempurna dan saya pun bergegas mengejar pesawat selanjutnya. Belajar dari pengalaman boarding gate yang berubah tiba-tiba menjelang keberangkatan, saya tidak melepas pandangan dari layar monitor! Karena pesawat dari MUC delay maka saat mendarat di FRA, saya pun berlari menuju boarding gate sesuai yang disebutkan di layar monitor!

Singkat cerita, akhirnya saya masuk kedalam pesawat dari FRA menuju OPO! Saya duduk bersebelahan dengan seorang pria paruh baya, namanya Nadeem. Kami pun akhirnya ngobrol sepanjang perjalanan. Yuk, saya kenalin dengan Nadeem 🙂

Nadeem merupakan pria kelahiran Mesir yang kini berkebangsaan Amerika dan tinggal di Seattle. Dia memiliki dua anak laki-laki yang sudah dewasa dan salah satu anaknya sedang berada di Denmark. Nadeem memiliki kapal kecil yang dinamakan Sweet Spot dan dia pernah keliling beberapa negara di Eropa dengan mengendarai Sweet Spot! Kali ini perjalanannya ke OPO adalah untuk mereparasi Sweet Spot. Semoga Sweet Spot lekas pulih ya, Nadeem!

Enggak terasa, pesawat pun akhirnya mendarat di OPO. Sambil mengucapkan salam perpisahan dengan Nadeem, saya bergegas menuju bagian Lost and Found bandara OPO. Anehnya, saya tidak menemukan koper saya! Jantung saya berdetak lebih kencang lagi namun saya mencoba tetap tenang. Saya berjalan menuju conveyor belt sambil menunggu dan itu dia koper saya! Bersyukur akhirnya saya bisa ganti baju selama Summit nanti 🙂

Urusan koper selesai, saya berusaha mencari informasi di mana saya bisa mengantre taksi. Tapi karena petugas informasi bandara kurang fasih menjelaskan dalam bahasa asing, saya cukup kebingungan mencari antrean taksi. Saya sempat melihat Nadeem dan tadinya berpikir mau minta tolong untuk dipanggilkan taksi tapi niat itu saya urungkan.

Saya pun mencoba mengelilingi bandara dan mempelajari jalur keluar masuknya. Setelah sekian lama, barulah saya beranjak menuju pintu keluar dan menemukan antrean taksi yang ramai menurunkan maupun mennaikkan penumpang. Saya baru tahu kalau di OPO, taksi itu tidak memiliki warna ataupun armada yang sama persis. Kalau di Jakarta atau New York, kita bisa dengan mudah mengenali taksi cukup dari melihat warnanya saja, tapi di OPO berbeda.

Awalnya saya ragu menaiki taksi tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada taksi tepat di depan saya. Syukurlah ternyata supir taksinya bisa berbahasa Inggris dengan baik! Saya pun diantar menuju apartemen tempat saya akan menginap dengan selamat! Oh ya, taksi di OPO hanya menggunakan kuitansi dengan tulisan tangan. Dengan jarak 16 km dari bandara OPO menuju Rua do Almada, tarif taksi yang saya bayarkan sebesar EUR25.35 atau setara dengan IDR425.120! Lumayan mahal 🙂

Kalau kalian, pernah kenalan dengan sesama penumpang di pesawat atau memilih untuk tidur selama perjalanan?

related articles:

Natur Green Action

Kalian masih ingat kan ya ulasan saya tentang cara saya merawat kekuatan dan kesehatan rambut dengan NATUR Hair Care?

Minggu lalu, NATUR kembali mengadakan acara berupa olahraga zumba bersama dan bertemu dengan bintang tamu seperti Luna Maya (selebriti) dan Tasya Farasya (beauty influencer) di Hari Bebas Kendaraan, Minggu, 8 Juli 2018 yang bertempat di sekitar jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat.

Setelah peserta melakukan registrasi ulang untuk mendapatkan kupon doorprize dan sarapan. Tersedia juga photo booth yang apabila kita membagikan inforasi mengenai acara yang sedang berlangsung, kita akan mendapatkan satu sachet shampoo NATUR.

IMG20180708072249

Tommy Dewantara selaku instruktur zumba mengajak peserta yang kebanyakan perempuan untuk bergerak bersama.

IMG20180708065320

IMG20180708065232

Setelah badan terasa segar dengan ber-zumba, duo MC Molan dan Surya mengajak Tasya Farasya untuk berbagi pengalamannya menggunakan NATUR Hair Care. Walau rambutnya hitam dan keriting, tidak ada niatan Tasya untuk mengubah penampilannya. Baginya, segala sesuatu yang NATURal merupakan pilihan terbaik, sama seperti NATUR Hair Care yang Tasya pilih untuk merawat mahkotanya.

IMG20180708073646

Sambil menunggu bintang tamu selanjutnya, yaitu Luna Maya, diadakan doorprize dengan hadiah utama water filter dari Kangaroo Healthy Home Appliances Indonesia. Awalnya, Kangaroo memasuki pasar di Vietnam dengan dua produk unggulan yaitu water filter dan water heater. Kini, Kangaroo hadir di Indonesia dengan beragam produk seperti blender, kipas angin, steam cooker dan lainnya.

IMG20180708080439

Selain itu, peserta juga dapat menukarkan botol plastik bekas sebagai aksi mendukung pelestarian lingkungan bersama NATUR serta mendapatkan sampel produk.

IMG20180708075859

Akhirnya, yang ditunggu tiba juga…. Luna Maya berbagi pengalaman menggunakan NATUR Hair Care. Ternyata model yang berbakat di dunia akting ini sudah lama menggunakan NATUR Hair Care untuk merawat rambutnya.

IMG20180708081118

Saat ini, Luna Maya sedang syuting sebuah film yang mengharuskannya memakai wig sepanjang hari yang menyebabkan rambutnya rontok. Untungnya ada NATUR Hair Care yang membantu merawat rambut panjangnya untuk tetap kuat!

Terima kasih untuk NATUR Hair Care, komunitas sahabat blogger, dan Kangaroo Indonesia atas undangannya!

Still Water VS Water

Hello all, I am back for more stories about my trip my adventure to Portugal!

baca cerita sebelumnya di:  Flight Across Continent part 2

Yuk kita lanjutin apa yang terjadi setelah saya akhirnya tiba di depan boarding gate G24 yang kosong!

Melihat boarding gate yang kosong, saya langsung menuju ke service counter maskapai penerbangan yang saya gunakan. Sampai di service counter, saya mendapatkan informasi bahwa pesawat sudah take off!

Dooorr!

Akhirnya saya diarahkan petugas maskapai penerbangan menuju ke ticket counter untuk informasi selanjutnya. Di daerah ticket counter sudah banyak penumpang yang mengantre, sebagian membeli tiket pesawat on the spot, sebagian lagi yang baru saja mengalami kejadian serupa dengan saya.

Yang saya rasakan saat ketinggalan pesawat adalah panik! Panik tentang koper yang terpisah dan panik akan perjalanan selanjutnya. Enggak lucu kan kalau koper saya hilang entah kemana dan saya hanya memakai baju satu-satunya di Global Finance Summit!

Padahal apabila penerbangan saya on schedule, saya bisa bertemu dengan kolega di bandara Porto, Portugal (OPO) dan bersama dengannya menuju apartemen tempat kami akan menginap. Saya juga punya kekhawatiran tentang tiket pesawat yang hangus dan bagaimana cara menuju apartemen dari bandara.

Setelah menunggu sesaat, tibalah saya di depan petugas ticketing. Saya berusaha tenang dan menyampaikan kalau saya tidak mendapatkan informasi mengenai berpindahnya boarding gate sehingga ketinggalan pesawat. Kemudian petugas ticketing memproses keluhan saya dan saya mendapatkan penerbangan selanjutnya tapi harus transit ke Frankfurt (FRA) terlebih dahulu sebelum mendarat di OPO karena itu satu-satunya penerbangan yang tersedia untuk hari itu. Saya diminta untuk memperhatikan layar monitor setibanya saya di FRA dan tiket pesawat rute terbaru diberikan secara cuma-cuma, Puji Tuhan!

Saya perlu menunggu sekitar kurang lebih 2 jam untuk boarding pada jam 10:35 dari MUC menuju FRA.Sedikit waktu yang tersisa saya gunakan untuk memotret isi bandara MUC yang menyediakan working station bersebelahan dengan playground untuk anak.

IMG20180515061453(1)IMG20180515063921(1)

Karena takut tertinggal pesawat lagi, saya memutuskan untuk menunggu dekat monitor dan melupakan sarapan pagi, sudah tidak selera. Akhirnya saya hanya membeli air minum kemasan botol, namun karena bingung dengan istilah yang tertera di kemasan, saya pun dengan mantap mengambil botol dengan keterangan “WATER”.

Kebiasaan meminum air bening dalam jumlah yang cukup membantu saya untuk tetap terhidrasi apalagi saya  punya kecenderungan memiliki kulit yang kering. Pernah lho seharian di ruangan ber-AC dan kurang minum air bening membuat saya memiliki medan listrik dan bisa “menyetrum” orang yang berdekatan dengan saya.

baca juga:  Minum Air Putih Saja Tidak Cukup!

Rasa haus yang sudah tidak tertahankan akhirnya akan terpuaskan dengan air yang baru saja saya beli. Saya pun buru-buru membuka tutup botol dan meminum air tersebut. Dan, setelah saya meminum air tersebut ada rasa soda di lidah…. wah, ternyata saya salah membeli air minum! For Your Information, di Eropa, air minum itu terdiri atas 2 varian, dengan sebutan STILL WATER dan WATER.

Bedanya, STILL WATER merupakan air bening tanpa rasa yang biasa kita minum sehari-hari. Sedangkan WATER merupakan air berkarbonasi yang biasa juga dikenal dengan sebutan sparkling water. Jadi, kalau di restoran, harus lengkap menyebut STILL WATER apabila ingin air bening saja… kalau hanya menyebut WATER, kita akan diberikan sparkling water. Mau enggak mau deh saya harus menghabiskan sprakling water tersebut, mudah-mudahan saja tidak sakit perut karena saya belum makan siang sama sekali sejak pesawat mendarat di MUC.

Sambil menunggu, saya kembali mengecek email dan ternyata saya mendapatkan email dari maskapai penerbangan bahwa boarding gate penerbangan MUC ke Porto, Portugal (OPO) berubah dikirim tepat jam 08:15. Mungkin ini juga yang membuat saya tidak membayar tiket untuk penerbangan MUC-FRA. Selain itu, penerbangan dari MUC-FRA delay padahal sampai jam 12:00 padahal saya sudah harus boarding lagi dari FRA-OPO pada jam 13:15!

Kepanikan saya ternyata belum usai karena penerbangan MUC-FRA yang delay dan apakah yang terjadi selanjutnya dengan saya? Stay tune for more stories about my trip my adventure to Portugal!

Kalau kalian, pernah mengalami ketinggalan pesawat atau enggak pernah? Kalau pernah, bagaimana kalian mengatasinya? Let’s share!

Flight Across Continent part 2

Masih ingat kan cerita saya pada bagian pertama perjalanan ke benua Eropa?

Setelah transit yang singkat di Changi, saya akhirnya masuk pesawat menuju Munich. Saya mendapatkan kursi di sayap kanan dan menghadap jendela. Walau menghadap jendela, enggak banyak yang bisa saya lihat karena sudah malam dan memang sudah jamnya tidur di dalam pesawat.

Di sebelah saya adalah sepasang suami istri yang mau kembali ke negaranya setelah liburan ke Singapura. Saya pun enggak mau terlalu banyak ngobrol dengan mereka karena khawatir mengganggu jam istirahat mereka. Namun ada perasaan nyaman saat mengetahui penumpang di sebelah saya adalah pasutri tersebut sehingga saya bisa dengan tenang terlelap dalam tidur.

Beberapa saat setelah take off ada kudapan dan minuman yang ditawarkan pramugari. Karena merasa perut masih penuh akibat makan malam yang disuguhkan saat perjalanan CGK-SIN, saya pun memilih untuk minum saja sambil menonton film.

Singkat cerita, saya pun tertidur (sesekali terbangun-kemudian tidur lagi-lalu bangun) sampai matahari mulai menjelang yang tandanya sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandar Udara Munchen (MUC). Melihat perubahan angkasa dari gelap menuju terang, saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk memotret langit yang indah.

IMG20180515081645

IMG20180515093250

IMG20180515102017

Yeay! akhirnya saya sampai juga menginjakkan kaki di MUC dengan pendaratan yang mulus. Saya tiba jam 05.25 waktu setempat dan toko-toko di dalam bandara belum ada yang buka kecuali coffee shop. Namun karena letak coffee shop dengan boarding gate agak berjauhan maka saya langsung menuju gate K09 yang tercetak di boarding pass.

MUC merupakan bandara tersibuk kedua di Jerman dalam hal lalu lintas penumpang dan juga sebagai bandara tersibuk keenam di benua Eropa.

Penerbangan saya selanjutnya menuju Porto, Portugal dimulai jam 08:15 membuat saya masih bisa video call dengan keluarga mengandalkan free wifi yang tersedia di MUC. Selesai bertukar kabar dengan keluarga, saya pun langsung mengatur kamera ponsel untuk selfie dan memotret suasana di landasan terbang dengan matahari yang bersinar dengan gagahnya!

IMG20180515062034

Enggak lupa juga dong saya mengecek email dan submit beberapa pekerjaan kantor sambil menunggu waktu boarding. Jam setempat menunjukan pukul 07:30, tapi kenapa suasana depan boarding gate masih saja sepi. Ternyata memang biasanya petugas yang menjaga gate akan standby 30 menit menjelang waktu boarding.

Akhirnya waktu yang tersisa pun saya gunakan untuk membaca novel Dee Lestari yang terbaru, yaitu Aroma Karsa.

IMG20180515062751

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 08:10 dan ada petugas yang mulai berdatangan. Kemudian dengan pede saya menunjukkan boarding pass kepada petugas tapi melihat raut wajah si petugas… batin saya berkata ,”ada yang enggak beres nih!”

Dan, ternyata benar…. boarding gate saya berubah! dari K09 menjadi G24. Secepat kilat saya berlari menuju G24 tapi ternyata untuk menuju gate tersebut saya harus menggunakan skytrain yang artinya K09 dan G24 terletak di terminal yang berbeda. Setelah tiba di terminal yang dimaksud, saya kembali berlari secepat mungkin…. lumayan deh ya latihan lari selama ini kepake juga akhirnya untuk ngejar pesawat 🙂

Namun, saat saya tiba di depan G24, tidak ada seorang petugas pun! Juga tidak ada pesawat yang sedang parkir!

Kira-kira nih, apa yang terjadi dengan saya selanjutnya? Ikuti terus cerita saya selanjutnya tentang perjalanan ke benua Eropa untuk pertama kalinya ya!

IMG20180515063617

Cerita lanjutan bisa dibaca di https://honeyjosep.wordpress.com/2018/07/11/still-water-vs-water/

related article  Buat Visa Schengen Tanpa Agen Perjalanan