Flight Across Continent part 2

Masih ingat kan cerita saya pada bagian pertama perjalanan ke benua Eropa?

Setelah transit yang singkat di Changi, saya akhirnya masuk pesawat menuju Munich. Saya mendapatkan kursi di sayap kanan dan menghadap jendela. Walau menghadap jendela, enggak banyak yang bisa saya lihat karena sudah malam dan memang sudah jamnya tidur di dalam pesawat.

Di sebelah saya adalah sepasang suami istri yang mau kembali ke negaranya setelah liburan ke Singapura. Saya pun enggak mau terlalu banyak ngobrol dengan mereka karena khawatir mengganggu jam istirahat mereka. Namun ada perasaan nyaman saat mengetahui penumpang di sebelah saya adalah pasutri tersebut sehingga saya bisa dengan tenang terlelap dalam tidur.

Beberapa saat setelah take off ada kudapan dan minuman yang ditawarkan pramugari. Karena merasa perut masih penuh akibat makan malam yang disuguhkan saat perjalanan CGK-SIN, saya pun memilih untuk minum saja sambil menonton film.

Singkat cerita, saya pun tertidur (sesekali terbangun-kemudian tidur lagi-lalu bangun) sampai matahari mulai menjelang yang tandanya sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandar Udara Munchen (MUC). Melihat perubahan angkasa dari gelap menuju terang, saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk memotret langit yang indah.

IMG20180515081645

IMG20180515093250

IMG20180515102017

Yeay! akhirnya saya sampai juga menginjakkan kaki di MUC dengan pendaratan yang mulus. Saya tiba jam 05.25 waktu setempat dan toko-toko di dalam bandara belum ada yang buka kecuali coffee shop. Namun karena letak coffee shop dengan boarding gate agak berjauhan maka saya langsung menuju gate K09 yang tercetak di boarding pass.

MUC merupakan bandara tersibuk kedua di Jerman dalam hal lalu lintas penumpang dan juga sebagai bandara tersibuk keenam di benua Eropa.

Penerbangan saya selanjutnya menuju Porto, Portugal dimulai jam 08:15 membuat saya masih bisa video call dengan keluarga mengandalkan free wifi yang tersedia di MUC. Selesai bertukar kabar dengan keluarga, saya pun langsung mengatur kamera ponsel untuk selfie dan memotret suasana di landasan terbang dengan matahari yang bersinar dengan gagahnya!

IMG20180515062034

Enggak lupa juga dong saya mengecek email dan submit beberapa pekerjaan kantor sambil menunggu waktu boarding. Jam setempat menunjukan pukul 07:30, tapi kenapa suasana depan boarding gate masih saja sepi. Ternyata memang biasanya petugas yang menjaga gate akan standby 30 menit menjelang waktu boarding.

Akhirnya waktu yang tersisa pun saya gunakan untuk membaca novel Dee Lestari yang terbaru, yaitu Aroma Karsa.

IMG20180515062751

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 08:10 dan ada petugas yang mulai berdatangan. Kemudian dengan pede saya menunjukkan boarding pass kepada petugas tapi melihat raut wajah si petugas… batin saya berkata ,”ada yang enggak beres nih!”

Dan, ternyata benar…. boarding gate saya berubah! dari K09 menjadi G24. Secepat kilat saya berlari menuju G24 tapi ternyata untuk menuju gate tersebut saya harus menggunakan skytrain yang artinya K09 dan G24 terletak di terminal yang berbeda. Setelah tiba di terminal yang dimaksud, saya kembali berlari secepat mungkin…. lumayan deh ya latihan lari selama ini kepake juga akhirnya untuk ngejar pesawat 🙂

Namun, saat saya tiba di depan G24, tidak ada seorang petugas pun! Juga tidak ada pesawat yang sedang parkir!

Kira-kira nih, apa yang terjadi dengan saya selanjutnya? Ikuti terus cerita saya selanjutnya tentang perjalanan ke benua Eropa untuk pertama kalinya ya!

IMG20180515063617

related article  Buat Visa Schengen Tanpa Agen Perjalanan

Advertisements