Pink Talk with SORELLA

Minggu lalu, aku dilanda kesedihan karena baru kehilangan sahabat SMA. Dia sempat menjadi penyintas kanker payudara tapi belakangan ditemukan kembali kanker di organ hatinya.

Hal tersebut membuatku menjadi perlu tahu mengenai kanker khususnya kanker payudara melalui SORELLA Pink Talk: Breast Cancer Awareness beberapa waktu lalu dengan narasumber dr. Ratna dari RSIA Budhijaya.

IMG20180526160400

Sebagai perempuan, kita harus bersyukur karena dianugerahi organ tubuh yang indah seperti payudara dan unik seperti rahim. Tidak hanya indah dan unik, payudara dan rahim harus dijaga dengan baik.

Kita tahu kan kalau tubuh manusia terdiri dari sel-sel? Nah kanker merupakan jaringan sel yang bertumbuh tidak dengan seharusnya. Kanker payudara merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh perempuan di dunia. Setiap detiknya, di dunia ditemukan kasus baru kanker payudara sehingga penyakit ini juga merupakan pembunuh utama perempuan.

Bahkan, di Asia trennya semakin banyak yang terkena kanker payudara di bawah usia 40 tahun  dan biasanya sudah terdiagnosa setelah stadium lanjut. Perempuan yang memiliki faktor risiko terkena kanker payudara adalah mereka yang:

  • Kelebihan berat badan
  • Mengkonsumsi alkohol dan merokok
  • Mendapatkan menstruasi di bawah umur 12 tahun
  • Belum pernah melahirkan atau melahirkan di atas umur 35 tahun
  • Menggunakan kontrasepsi oral
  • Melakukan terapi hormon terkait fertilitas
  • Tidak menyusui
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker

Sebagian besar perempuan tidak aware dengan kanker payudara karena beberapa hal berikut:

  • Organ payudara yang tertutup
  • Mahalnya biaya pemeriksaan klinis
  • Kurangnya pengetahuan mengenai kanker payudara
  • Takut terdiagnosa kanker payudara

Walau mahalnya biaya pemeriksaan klinis, perempuan bisa lho melakukan deteksi dini kanker payudara dengan cara Periksa Payudara Sendiri (SADARI).  SADARI menjadi penting karena apabila kanker payudara ditemukan pada stadium awal memiliki survival rate yang tinggi.

Breast self exam, breast cancer monthly examination infographic

Kalau menemukan benjolan, jangan panik tapi langsung konsultasi ke dokter. 9 dari 10 benjolan di payudara biasanya bukan kanker. Untuk pemeriksaan akurat perlu dilakukan rontgent, laboratorium hingga biopsi oleh dokter.

Kanker payudara memiliki ciri khas selain benjolan keras pada salah satu payudara yaitu,

  • Permukaan payudara tidak rata
  • Benjolan tidak mudah digerakkan
  • Kemerahan pada kulit payudara
  • Kulit payudara seperti kulit jeruk
  • Luka tak kunjung sembuh di area payudara

Agar terhindar dari kanker payudara, dr Ratna menyarankan agar perempuan mengurangi konsumsi lemak, tetap bergerak aktif dan melakukan pemeriksaan dini seperti SADARI, dan pemeriksaan klinis ke dokter.

Di acara SORELLA Pink Talk: Breast Cancer Awareness, hadir pula Ibu Mitha Purba, penyintas kanker sekaligus Head of Support & Counselling Unit and Breast Cancer Survivor dari Love Pink Indonesia.

IMG20180526170551

Ibu Mitha bercerita bahwa pada tahun 2000 di umurnya yang ke-34 tahun, dia menderita kanker tiroid  stadium lanjut. Dokter memvonis kesempatan hidupnya hanya tinggal 6 bulan saja. Tentu saja hancur hati Ibu Mitha mendengar berita tersebut dan langsung teringat kedua anaknya yang masih kecil. Dia sempat tawar menawar dengan Tuhan, kalau boleh diberi kesempatan hidup sampai anaknya masuk SD karena menurutnya, apabila anak-anak sudah masuk SD, mereka sudah bisa mengurus diri mereka sendiri.

Anak-anak merupakan motivasi Ibu Mitha untuk melawan kanker tiroid yang dideritanya dan setelah berjuang selama 5 tahun, dia dinyatakan sembuh dari kanker tiroid.

Walau sudah berhasil melawan kanker tiroid, Ibu Mitha tidak meninggalkan gaya hidupnya sebagai perokok berat. Akibat kelalaiannya, pada tahun 2014, ditemukan 5 benjolan di dadanya dan divonis menderita kanker payudara stadium 3B. Ibu Mitha berpesan kepada perempuan yang hadir agar jangan lalai memeriksakan payudara karena kebanyakan hanya peduli memeriksakan kandungan melalui papsmear.

Hanya dibutuhkan waktu selama 4 hari bagi Ibu Mitha untuk memutuskan memerangi kanker payudara yang dideritanya. Pengobatan yang dilakukan bermula dari kemoterapi sebanyak 8 kali. Dilanjutkan dengan operasi pengangkatan payudara yang menyebabkan dia menjadi WTS (Wanita Tanpa Susu) dan diakhiri dengan rencana radiasi sebanyak 30 kali. Akan tetapi pada radiasi yang ke-25, sel kanker sudah tidak ada lagi dan prognosisnya bagus maka Ibu Mitha bisa beraktivitas seperti sediakala.

Sebagai wujud terimakasihnya kepada hidup, Ibu Mitha mendedikasikan dirinya di komunitas Love Pink Indonesia yang membantu mensosialisasikan deteksi dini kanker payudara dengan SADARI. Selain SADARI, perempuan Indonesia dengan rentang umur 25 tahun-35 tahun dapat mendeteksi kanker payudara dengan USG Mammae, di atas 40 tahun dengan mammografi.

Walau Ibu Mitha sudah menjadi WTS, dia masih memerlukan bra dari SORELLA. Kenapa? Anatomi payudara yang mengandung lemak, kelenjar, jaringan ikat dan cairan berfungsi untuk melawan gaya berat dari jaringan dan kulit yang menutupnya. Saat dilakukan mastektomi semuanya hilang sehingga kebanyakan perempuan akan membungkuk dan lama kelamaan postur tubuh seperti ini bila dibiarkan akan menimbulkan gangguan tulang belakang. Maka walaupun telah dilakukan mastektomi, perempuan tetap butuh memakai bra. Dan perlu diketahui juga bahwa memakai bra tidak terbukti meningkatkan risiko kanker payudara.

Nah, bra seperti apa yang dapat membantu penyintas kanker payudara?

Sorella, produk pakaian dalam yang berasal dari Taiwan hadir di Indonesia sejak 33 tahun lalu dan sudah menjadi top brand selama 7 tahun berturut-turut. Sorella memiliki varian bra yang disebut mastektomi dan menjual mastektomi pad. Bra mastektomi dari Sorella memiliki fitur padding yang dapat dilepaskan.

Produk ini dapat ditemukan di offline (department store) maupun online store (store).

Semoga dengan artikel ini perempuan Indonesia semakin menyadari pentingnya untuk pemeriksaan dini kanker payudara baik melalui SADARI atau mengunjungi dokter.

Advertisements

Termehek- mehek

This Saturday, I was planning to go  to my project tapi gatot karena satu dan lain hal akhirnya sebagai pelipur lara saya nonton Termehek- mehek Trans TV sembari menunggu kuis perdana Are Smarter than 5thGrader ?

Episode Termehek- mehek kali ini mengungkap persoalan seorang wanita yg berinisial Y yg suaminya sebut saja T sudah sebulan tidak pulang ke rumah dan menggugat cerai dirinya.

I’ll not tell you the whole story, I’ll straight to the end of the show. Dan ini sangat menarik untuk dibahas disini.

Ternyata terungkap bahwa selama ini T telah  tidur dengan banyak perempuan lain selain Y. Alasannya, T tidak pernah merasa puas dengan servis ranjang yang dilakukan Y dalam pernikahan mereka.

Ironis sekali bahwa banyak orang yang melegalkan hubungan ranjang atau seks melalui lembaga yang dinamakan pernikahan.

Dan begitu rapuhnya sebuah pernikahan yg fondasinya hanya seks semata.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pria kebanyakan memang suka mencoba seribu gaya dalam permainan ranjang tapi perlu diingat, wanita juga manusia dan perlu dihormati. Dan rasanya,  terutama wanita negeri kita ini masih sangat tertutup dan tabu untuk mencoba seribu macam gaya bercinta.

Banyak kekerasan dalam rumah tangga terjadi hanya karena persoalan syahwat ini.

Dan yang jadi korban selalu wanita baik fisik maupun psikologis, lahiriah maupun batiniah.

Seks memang tidak dapat dipisahkan dari pernikahan, bahkan orang yg tidak menikah pun bisa melakukannya.

Namun, apakah hanya seks yang jadi tiang utama sebuah pernikahan?

Buat saya, toleransi, kompromi, komunikasi, saling menghargai dan menghormati serta musyawarah untuk mufakat(eh, yg terakhir mah pelajaran PMP waktu masih sekolah LOL) itulah yg harus selalu ada dalam sebuah pernikahan.

Bukan berarti seks tidak penting, namun pada awalnya seks diciptakan sangat istimewa dan untuk maksud yg istimewa pula.

Jangan pernah berharap untuk mendapatkan paket menarik dalam pernikahan terutama soal seks. Payudara dan elastisitas vagina seorang wanita akan berubah bila ia melahirkan mahluk kecil membuat takjub yg dinamakan bayi.

Saya terkagum pada pasangan RG dan DL yg merasakan kenikmatan sebuah hubungan melalui meditasi bersama, bukan melulu melalui syahwat.

Kalau saya berada pada posisi Y, saya akan berpisah. Sakit memang pada awalnya, namun mempertahankan pernikahan yg sudah rusak tidak masuk dalam hitungan layak diperjuangkan.

So, husband respect your wife as much as you respect your Mom.

Home Sweet Home

Jakarta, April 4th 2009